PENGUNGKAPAN DAN PENGKAJIAN NASKAH KUNO KOTA PARIAMAN SUMATERA BARAT

Pengarang: 

SAID ZAKARIA

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI JAKARTA

Tahun Terbit: 

1996/1997

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Barat
Rak: 

1.2(000-09

PENGUNGKAPAN DAN PENGKAJIAN NASKAH KUNO KOTA PARIAMAN SUMATERA BARAT

Penulisan sejarah kota Pariaman seperti yang dilakukan oleh Baginda Said Zakaria adalah usaha yang patut dihargai, meskipun beliau tidak mempunyai latarpendidkan sejarah. Cara penuturan cerita yang dilakukannya merupakan ciri penulisan sejarah tradisional yang mementingkan kronologis suatu peristiwa. KaryaSaid Zakaria dapat digolongkan sebagai karya penulisan monografi yang masih bersifat data dasar yang perlu dirujuk pada sumber-sumber tertulis lainnya yang sezaman dengan penulisan sejarah kota Pariaman tahun 1930an. Peristiwa yang turut berpengaruh terhadap kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Pariaman pada waktu itu ialah zaman maleise yang menimpa hampir seluruh pelosok nusantara. Zaman ini kondisi perekonomian menjadi lesu dan sulit sehingga aktivitas sosial manusia juga terbatas mengikuti kondisi yang ada pada saat itu.Salah satu kesulitan yang dialami oleh sebagian besar penduduk Pariaman yang mayoritas penduduknya bermatapencarian sebagai nelayan ialah sumber daya alam (hasil ikan) di pantai Barat Sumatera, yang menyebabkan kondisi perekonomian nelayan sampai saat ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Pendidikan di Pariaman juga berkembang pesat, meskipun tingkat pendidikan yang ada baru sampai tingkat sekolah menengah atas, dan pendidikan kejuruan. Disamping itu, terdapat pula pendidikan nonformal di bidang pertukangan dan kepandaian putri. Salah satu yang menyebabkan kondisi perekonomian tidak mengalami kejatuhan total pada zaman maleise ialah sikap proteksionisme di kalangan warga masyarakat Pariaman yang lebih mengutamakan kepentingan anak negeri dibandingkan untuk daerah lain sehingga penduduk pendatang tidak dapat mengembangkan usaha perekonomiannya di Pariaman sampai saat ini. Kaum wanita Pariaman sangat terkenal dengan kepandaiannya merenda sarung bantal, taplak meja, kelambu, perhiasan rumah tangga yang indah dipandang mata. Tradisi tersebut sekarang mengalami pergeseran karena banyak anak mudanya yang lebih suka merantau. Adat perkawinan di Pariaman merupakan percampuran kebudayaan lokal, kebudayan Arab, dan kebudayaan Islam yang berpadu secara harmonis. Adat Pariaman mengikuti garis keturunan dari pihak ibu. Kedudukan wanita sangat dijunjung tinggi oleh keluarga. Wanitalah yang dapat membawa nama baik keluarga atau sebaliknya. Pada masa sekarang, perkawinan tidak lagi mengikuti keputusan rapat para ninik mamak, tetapi sudah diserahkan kepada yang bersangkutan. Namun di desa-desa, peranan ninik mamak masih memegang peranan. Sifat kegotong-royongan yang dilakukan oleh warga masyarakat setempat dalam hal penyelenggaraan adat perkawinan sejak dari persiapan sampai selesai perlu dilestarikan sebagai salah satu perwujudan solidaritas sosial warga masyarakat Pariaman.