PENGOBATAN TRADISIONAL MASYARAKAT DAYAK HALONG DI KABUPATEN BALANGAN KALIMANTAN SELATAN

Pengarang: 

SISVA MARYADI, MARTINA, NURMAULIDIANI AWALIYAH

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

KPT - 615.8 (610-619)

ISSN/ISBN: 

978-602-1228-96-8

Jumlah Halaman: 
89

Agama Budha menjadi pilihan bagi masyarakat Halong karena ajarannya sangat dekat dengan budaya dan tradisi mereka. Ritual adat masih berjalan dengan sangat baik dan dapat sejalan dengan ajaran agama Budha. Sakit bagi masyarakat Banjar adalah adanya semacam gangguan terhadap pikiran dan fisik manusia, sehingga mengakibatkan tidak dapat berkonsentrasi secara penuh dalam melaksanakan pekerjaan. Berkaitan dengan sakit dan sehat tersebut, masyarakat Halong meracik tumbuhan yang dapat dijadikan obat tradisional berkhasiat menyembuhkan penyakit. Tumbuhan tersebut berasal dari alam, baik pekarangan maupun yang diambil dari hutan belantara yang dimanfaatkan untuk obat tradisional meliputi akar, batang, kulit dan daun. Pengolahan yang paling lazim dilakukan dengan cara direbus, diremas, ditumbuk, disedu, direndam, dikunyah, dihaluskan, menambahkan air dan dipanaskan atau dihangatkan dengan menggoreng. Penggunaannya secara umum dengan diminum, dimakan, dioles, dibalur, diusap, dicelup, diuap, ditampal dan diseduh. Pemanfaatan tanaman yang dijadikan obat oleh masyarakat Halong ini tidak mengenal takaran atau dosis yang pasti serta aturan penggunaan ramuan obat yang dirujuk. Sehingga dosis atau takaran pemakaian obat yang dirujuk tidak terukur dengan baik. Secara umum sarana pemakaian ukuran tidak rinci atau perkiraan saja dengan melihat pada kondisi orang yang sakit. Ramuan tumbuhan yang dijadikan obat sebagai daftar inventarisasi yang belum diuji secara kemujarabannya atau kemanjurannya. Ramuan ini merupakan khasanah pengobatan yang digunakan oleh penyembuh untuk orang-orang yang sakit berdasarkan pengalaman turun-temurun.

Translate

Buddhism is the choice of the Halong community because its teachings were very close to their culture and traditions. Customary rituals were still going very well and could be in line with the teachings of Buddhism. Pain for the Banjar community was a kind of disturbance to the human mind and physicality, so that it resulted in not being able to concentrate fully in carrying out work. In connection with this illness and health, the Halong community concocted plants that could be used as traditional medicines to cure diseases. These plants came from nature, both in the yard and taken from the wilderness which was used for traditional medicine including roots, stems, bark and leaves. The most common processing is done by boiling, kneading, pounding, brewing, soaking, chewing, mashing, adding water and heating or heating by frying. Its use was generally drunk, eaten, smeared, rubbed, rubbed, dyed, steamed, patched and brewed. The use of plants used as medicines by the Halong community did not recognize the exact dose or dosage as well as the rules for using the referred medicinal herbs. So that the dose or dose of drug use referred was not measured properly. In general, the means of using measurements were not detailed or just estimating by looking at the condition of the sick person. Herbs used as medicine as an inventory list that had not been tested for efficacy or efficacy. This herb was a remedial medicine used by healers for people who were sick based on hereditary experience.