PENGKAJIAN KESENIAN TARIAN KATAGA DI KABUPATEN SUMBA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Pengarang: 

DWI BAMBANG SANTOSA, I GUSTI AYU AGUNG SUMARHENI

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Timur
Rak: 

RKE - 793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-274-9

Jumlah Halaman: 
126

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, salah satu wujud kekayaan budaya tersebut adalah seni tari.  Salah satu kekayaan budaya seni tari yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Sumba Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah Tari Kataga. Kataga berasal dari kata dasar taga yang artinya  belah kepala/pancung, dapat awalan ka (kataga) artinya mari kita pancung/belah kepalanya. Tari ini melukiskan tentang perang /memperoleh/melukiskan kemenangan dalam perang tanding antara satu suku dengan suku lainnya. Tarian ini sudah ada sejak dulu karena adanya pelecehan marga oleh marga lainnya sehingga terjadi perang suku. Akibatnya ada kalah menang. Yang menang bersorak atau mengelu-elukan kemengan dengan tarian. Persebaran Tari Kataga hanya terbatas pada 2 wilayah desa yakni Desa Wanokaka dan Desa Anakalang. Namun Tari Kataga yang berkembang di kedua desa tersebut memiliki perbedaan pada motif gerak. Ragam gerak pada Tari Kataga tergolong sederhana, namun membutuhkan energi yang cukup kuat, karena tari ini menggambarkan sikap ketaguhan seorang petarung atau prajurit. Ada 3 elemen dasar gerakan pada tari ini yaitu menyerang, bertahan dan menghindar. Tarian ini ditarikan oleh 6 orang laki-laki dan 6 orang perempuan, dimaa penari laki-laki khususnya dipilih melalui kriteria. Pada tarian ini juga memiliki beberapa fungsi diantaranya fungsi filosofi, sarana upacara, estetika, pendidikan, sosial, dan sebagainya.