PEMBANGUNAN PELABUHAN SURABAYA DAN KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI DI SEKITARNYA PADA ABAD XX

Pengarang: 

SRI RETNA ASTUTI, DWI RATNA NURHAJARINI, NURDIYANTO

Penerbit: 

BPNB DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

SSO - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-62-4

Jumlah Halaman: 
152

Aspek yang menyebabkan pemerintah kolonial membangun pelabuhan yang modern di Surabaya menggantikan Pelabuhan Kalimas adalah adanya kegiatan perdagangan di Surabaya yang terus meningkat baik dari sektor ekspor maupun impor. Komoditas ekspor melalui Pelabuhan Surabaya di dominasi oleh gula. Hal itu karena dukungan daerah hinterland Surabaya yang merupakan daerah produsen tanaman tropis. Perdagangan di Surabaya yang melalui Pelabuhan Kalimas pada akhirnya tidak mampu mendukung pesatnya perdagangan yang membutuhkan sarana dan prasarana transportasi, pergudangan bongkar muat yang cepat dan efektif. Setelah melalui pembahasan yang panjang, akhirnya pemerintah Hindia Belanda membangun pelabuhan baru yang modern. Pemerintah mengelola pelabuhan dalam sistem havenbedrif (usaha pelabuhan) dibawah wewenang Burgelijke Openbare Werken (BOW). Pembangunan pelabuhan yang pesat di awal abad XX terhenti tatkala Jepang menguasai Jawa. Kondisi pelabuhan beserta fasilitasnya banyak yang rusak akibat perang. Masa kemerdekaan pun pemerintah RI belum segera mampu memperbaiki dan mengembangkan pelabuhan. Pembangunan fisik baru dimulai setelah tahun 1970 an, sementara perdagangan dan pelayaran baru menunjukkan kemajuan di akhir tahun 1960 an. Bersamaan dengan itu pemerintah mengembangkan industri maritim dengan menghidupkan Marine Etablissement dan Droogdok Maatschappij dan kegiatan yang dinamis di pelabuhan Surabaya menjadikan daearah sebagai salah satu daerah tujuan bagi pencari kerja. Oleh karena itu namanya berubah menjadi PT. PAL dan PT. DOK dan Perkapalan. Pelabuhan Surabaya sebagai pusat perdagangan sejak masa kolonial menjadi tumpuan bagi para pencari kerja baik sebagai pekerja tetap ataupun pekerja lepas. Disamping itu juga membuka peluang bagi pedagang untuk mencari rezeki di pelabuhan. Sementara kegiatan di Pelabuhan Tanjung Perak difungsikan sebagai pelabuhan samudra , Kalimas tetap hidup sebagai pelabuhan rakyat.