PELABUHAN RIAU HUBUNGAN DAN PERANANNYA DENGAN DAERAH-DAERAH HINTERLAND TAHUN 1700-1973

Pengarang: 

DAHSYAT GAFNESIA, ANASTASIA WIWIK S, SINDU GALBA

Penerbit: 

BPSNT TANJUNGPINANG

Tahun Terbit: 

2007

Daerah/Wilayah: 
Riau
Rak: 

SUA - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-979-1281-11-9

Jumlah Halaman: 
87

Pada awal abad 17, Pelabuhan Riau menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan transito antara timur dan barat karena letaknya yang strategis di jalur dagang Selat Malaka. Daya tariknya adalah Managierse Aequipagenya yaitu kemampuan mengendalikan barang dagangan dan menyediakan spare part bagi kapal yang datang dengan cepat dan murah. Keberadaan Pelabuhan Riau sejak abad ke-17 dengan karakteristik wilayah yang unik, memberikan nuansa tersendiri terhadap wilayah ini pada masa-masa selanjutnya. Posisinya yang strategis serta ditunjang kondisi alamnya yang banyak, mendorong ramainya perdagangan di wilayah tersebut hingga abad ke-20. Namun belakangan seiring dengan dibukanya bandar Singapura oleh Raffles tahun 1819 mengambil alih peran pelabuhan Riau dalam kancah konstelasi politik maupun ekonomi. Sementara itu kondisi sosial politik di daerah Riau semakin diperparah dengan ditandatanganinya Treaty Of London antara Inggris dan Belanda tahun 1824. Dibukanya Pulau Batam tahun 1973 mempunyai arti penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada umumnya dan Riau khususnya. Dengan demikian, pusat perdagangan daerah Riau pasca tahun 1784 yang mengalami kekosongan, sejak dibukanya Batam tahun 1973 tersebut memiki pusat perdagangan di Batam. Seiring dengan direncanakannya Batam sebagai pelabuhan Internasional.