PATU MBOJO STRUKTUR, KONSEP PERTUNJUKAN PROSES PENCIPTAAN DAN FUNGSI

Pengarang: 

AHMAD BADRUN

Penerbit: 

LENGGE MATARAM

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Barat
Rak: 

RKE - 790.2 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-979-35440-4-5

Jumlah Halaman: 
298

Patu Mbojo pada umumnya terdiri dari tiga atau empat kalimat. Selain itu, ada juga patu yang melebihi empat kalimat. Bentuk terpanjang patu adalah sebelas kalimat. Bentuk dasar patu Mbojo adalah dua kalimat. Akan tetapi bentuk yang terdiri dari 2 kalimat sudah jarang ditemukan pada saat sekarang. Jumlah kata dan suku kata pada tiap kalimat patu berkisar 2 sampai 17 kata. Jumlah suku kata berkisar 4 sampai 44 suku kata. Patu mbojo tidak bersampiran dan berirama (bersajak) akhir, tetapi berirama dalam dan berirama sempurna atau tidak sempurna. Patu Mbojo biasanya dinyanyikan. Karena dinyanyikan, patu Mbojo disebut juga rawa Mbojo “lagu Bima”. Patu dipertunjukkan dalam perayaan peristiwa apa saja, terutama pada perayaan perkawinan. Proses penciptaan patu dilakukan dalam pertunjukan dan diluar pertunjukan. Patu yang diciptakan dalam pertunjukan adalah patu cinta, sedangkan patu yang diciptakan di luar pertunjukan adalah dali. Penciptaan patu dalam pertunjukan memerlukan stimulus. Stimulusnya adalah berupa bunyi biola, patu kawan dan tanggapan pendengar. Fungsi patu atau pertunjukan patu meliputi fungsi untuk menggoda orang, mengenang masa lalu, pendidikan dan hiburan. Fungsi patu yang paling utama dan masih bertahan sampai dewasa ini adalah fungsi hiburan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa fungsi pertunjukan patu adalah untuk hiburan. Dalam pertunjukan patu, unsur teks, konteks, proses penciptaan dan fungsi merupakan unsur yang selalu hadir.