OKUPASI DOLINA KIDANG HUNIAN PRASEJARAH AKHIR PLESTOSEN – AWAL HOLOSEN KAWASAN KARST BLORA

Pengarang: 

INDAH ASIKIN NURANI, AGUS TRI HASCARYO, TOETIK KOESBARDIATI, DELTA BAYU MURTI, HARI WIBOWO, FERRY RAHMAN ARIES

Penerbit: 

BALAI ARKEOLOGI D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Daerah Istimewa Yogyakarta
Rak: 

ARK - 930.1 (930-939)

ISSN/ISBN: 

978-602-19675-8-4

Jumlah Halaman: 
184

Dolina Kidang dengan dua gua didalamnya, berdasarkan hasil penelitian melalui ekskavasi menunjukkan pemanfaatan per bagian lahan gua per kelompok, sehingga gua dihuni beberapa kelompok. Selain itu, terdapat setidaknya empat fase hunian. Fase hunian pertama atau teratas merupakan hunian tanpa didukung temuan rangka manusia dan dua fase hunian lainnya didukung dengan temuan rangka manusia dalam hal ini Homo Sapiens. Temunian ini menunjukkan terdapat dua fase hunian, pada dua lapisan budaya. Setelah ketiga fase hunia tersebut, tampak jelas gua tidak dihuni cukup lama yang ditunjukkan adanya lapisan konglomerat alas dan flow stone. Lapisan tersebut merupakan lantai gua pada masa tertentu, yang dibawahnya menunjukkan    lapisan budaya yang lebih tua. Fase hunian terakhir, dalam hal ini awal hunian berada dibawah lapisan flow stone. Seluruh lapisan tersebut didukung dengan tinggalan budaya yang berupa artefak yang sekonteks dengan masing-masing hunian yang berlangsung. Di lain pihak, tampak jelas berdasarkan hasil temuan ekskavasi antara Gua Kidang A dengan Gua Kidang AA terjadi pola hunian dengan pengaturan Okupasi. Sampai penelitian tahun 2017 Gua Kidung AA tidak ditemukan rangka manusia. Dan baru pada tahun 2018 ditemukan fragmen tulang manusia di dinding timur kotak U31T49 kedalaman 225 cm dari permukaan tanah. Berdasarkan adanya perbedaan keduanya, tampak terdapat pola hunian dengan pengaturan okupasi antargua. Selain itu kajian geologis melalui proses pembentukan dan alur aliran air menunjukkan Gua Kidang AA tidak terganggu oleh air. Sementara itu, Gua Kidang A sangat terganggu air pada masa tertentu terutama musim basah. Temuan tiga individu Homo Sapiens, menunjukkan bahwa sudah dikenal sistem kubur, setidaknya perlakuan pada mayat.