NONANG SIRIBURON

Pengarang: 

KENCANA S. PELAWI

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN JAKARTA

Tahun Terbit: 

1995

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

1.4(000-09

NONANG SIRIBURON
Naskah Nonang Siriburon merupakan sebuah karya sastra Batak yang berisi cerita-cerita tentang kehidupan masyarakat Batak di masa lampau. Karya ini dikarang oleh Arsenius Lumbantobing sekitar tahun 1910-an Cerita-cerita yang berisi dalam naskah ini meliputi terjadinya dunia ini, hukum dan aturan-aturan kehidupan lainnya. Naskah ditulis dengan aksara latin dan berbahasa batak. Sebagailayaknya sebuah naskah kuno, penggunaan tanda baca kurang diperhatikan secara baik. Begitu pula dalam penggunaan kalimat. Isi naskah Nonang Siriburon terdiri dari beberapa cerita, dimulai dengan cerita terjadinya dunia ini dengan tokoh Siboru Deak Parujar. Apabila kita ikuti jalan pikiran yang terdapat dalam mitologi cerita Siboru Deak parujar, maka akan kita temui bahwa ada suatu kuasa agung yang tidak bermula, dan tidak berujung yang menjadi sumber segala yang ada yaitu Mulajadi na Bolon. Unsur pertama yang diciptakan adalah Manuk-manuk Hulabanjati yang menjadi sumberDebata Bataraguru, sebab Leang-leang mandi untung-untung Na Bolon menjadi penghubung dengan Mulajadi Na Bolon. Secara umum nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini yaitu hukum-hukum adat yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat Batak, dalam hal ini berkaitan dengan Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu dalam masyarakat Batak, digambarkan seperti 3 batu tungku tempat perapian bertanak nasi, dalam arti tiga batu itu menggambarkan 3 unsur penting dalam hidup sosial masyarakat Batak, yakni Hula-hula, Dongan Sabutuha, Boru.