NILAI-NILAI BUDAYA DALAM UPACARA HAULAN KH.M.ZAINI ABDUL GHANI MARTAPURA KALIMANTAN SELATAN

Pengarang: 

M.NATSIR, HAMIDAH, AMNAH

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

UUA - 394.4 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-1228-92-0

Jumlah Halaman: 
98

Upacara Haulan KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani di Kauman Martapura adalah untuk mengetahui nilai-nilai religi, simbolik, sosial dan kerjasama dalam melaksanakan upacara. Upacara dilakukan setahun sekali, acara dilaksanakan dengan cara bergotong royong dalam mengumpulkan dana untuk konsumsi peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Haulan dapat memberi manfaat bagi masyarakat untuk dapat menjaga nilai-nilai yang ada didalam kehidupan bersama. Waktu pelaksanaan upacara sudah ditentukan oleh panitia setempat. Orang-orang yang terlibat dalam acara tersebut adalah kaum kerabat, murid-murid yang berdomisili di sekitar makam dengan menyiapkan peralatan, membersihkan lingkungan, membagi tugas dan bertanggung jawab menyiapkan makanan bagi peserta. Pelaksanaan acara dilakukan tahapan demi tahapan, misalnya setelah semuanya telah hadir pihak keluarga memberikan sambutan sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah Swt, menyampaikan salawat kepada Nabi sebagai rasul anbiya Muhammad Saw. Tahapan acara demi acara umum dilakukan pada setiap acara dimanapun acara itu dilakukan. Namun, acara yang menjadi acara inti memang dilakukan setelah sholat isya, seperti membaca surat yasin, tahlil dan tahmid, dilanjutkan membaca barzanji, setelah itu pembacaan zikir dan membaca nasid. Pada acara membaca nasid jemaah secara bersama-sama yang ada di mesjid di arena atau kompleks makam Guru Sekumpul, pembacaan nasid ini yang menjadi ciri khas ketika acara haulan Tuan Guru dilaksanakan setiap tahunnya. Motivasi penjiarah yaitu keinginan untuk tetap melestarikan upacara.

Translate

The Haulan Ceremony of KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani at Kauman Martapura was to find out the religious, symbolic, social and cooperation values ​​in carrying out the ceremony. The ceremony was held once a year, the event is carried out by mutual cooperation in collecting funds for the consumption of participants who came from various regions in Indonesia. Haulan could provide benefits for the community to be able to maintain the values ​​that were in common life. The time of the ceremony had been determined by the local committee. The people involved in the event are relatives, students who lived around the tomb by preparing equipment, cleaning the environment, dividing tasks and responsible for preparing food for participants. The event was carried out step by step, for example after everyone was present the family gave a speech as a thanksgiving to Allah, delivering salawat to the Prophet as an apostle of the Prophet Muhammad SAW. Stages of the event for the sake of general events carried out at every event wherever the event was conducted. However, the program that became the core event was done after evening prayers, such as reading the yasin, tahlil and tahmid letters, continued reading barzanji, after that recitation of dhikr and reading nasid. At the congregational nasid reading program together at the mosque in the arena or the tomb of Guru Sekumpul's tomb, the nasid reading was the hallmark of the teacher's haul event held annually. Pilgrim's motivation was the desire to keep preserving the ceremony.