NILAI-NILAI BUDAYA DALAM UPACARA ADAT MANYANGGAR

Pengarang: 

NENI PUJI NUR RAHMAWATI

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Tengah
Rak: 

UUA - 392 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-1202-57-9

Jumlah Halaman: 
114

Upacara adat Manyanggra ini bisa diartikan sebagai permohonanwarga kepada Ranying Hatalla Langit agar wilayah mereka terhindar dari gangguan roh-roh halus karena wilayah hunian roh-roh halus tersebut mereka tempati. Upacara adat ini adalah sebagai salah satu cara untuk menjaga kehidupan yang seimbang dan selaras antara manusia, alam dan roh-roh dengan cara memindahkan roh-roh halus tersebut. Upacara ini dilaksanakan tiga hari berturut-turut. Pembacaan doa dan mantra-mantra dalam upacara adat ini dilakukan oleh Basir yang mempunyai keyakinan Kaharingan (agama asli masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah). Ada 6 tahapan/urutan yang dilalui dalam pelaksanaan upacara adat Manyanggar ini, diantaranya: 1. Acara Manawur Mandurut Putir Santan, Mnarinjet Uluh Gaib Malambunan, 2. Acara Balian Mandurut Lasang Tingang, 3. Acara Balian Mangkang Sangiang, Paturun Sangiang, Nantulak Dahiang, 4. Acara Balian Manarung Akan Sagenep Sahur Parapah Jin/Nyaring Panpahilep, 5. Acara Mampendeng Keramat, Patei Bawui, 6. Acara Tabuh Pertamapatei Metu/Balian Karunya Sahur Parapah. Manfaat dari upacara ini warga mempunyai keyakinan mereka akan merasa aman, damai dan tenteram di waktu-waktu mendatang karena menurut mereka roh-roh halus di wilayah tersebut tidak akan mengganggu, justru akan bisa saling bekerja sama demi kedamaian di wilayah itu.