NI HOE KONG KAPITEIN TIONG HOA DI BETAWIE DALEM TAHON 1740

Pengarang: 

B. HOETINK

Penerbit: 

MASUP

Tahun Terbit: 

2007

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

BSL - 920.71 (920-929)

ISSN/ISBN: 

978-979-15706-2-6

Jumlah Halaman: 
170

Di antara para kapitan Cina yang terkenal di jaman pemerintahan VOC, Kapitan Nie Hoe Kong adalah yang paling tragis kisah hidupnya. Dari sejumlah 21 orang kapitan Cina di masa pemerintahan VOC, maka kisah Nie Hoe Kong adalah yang berakhir cukup tragis, dan mungkin dapat dibandingkan dengan kisah Jan Con, sekretaris Souw Beng Kong yang jatuh bangkrut dalam kemiskinan. Sebetulnya Nie Hoe Kong menjadi beken dalam sejarah kapitan Cina di Batavia justru karena kejadian “pembantaian Cina” tersebut. Pemerintahan VOC menganggap Nie Hoe Kong bertanggungjawab atas kejadian yang menghebohkan seantero negeri. Karena sebagai ‘kepala suku’ Cina di Batavia, di mata para pembesar VOC sudah semestinya Nie Hoe Kong tahu segala apa yang terjadi di kalangan warganya. Tuduhan yang lebih berat lagi adalah saudara laki-laki Nie Hoe Kong bernama Tsiatko sejak awal diduga terlibat dalam perkara besar ini. Maka sekalipun dengan keras dan intens Ni Hoe Kong menyangkal segala tuduhan, sang kapitan ini tidak dapat mengelak dari segala dakwaan yang ditumpahkan kepadanya. Ia ditahan di salah satu ruang Raad van Justitie yang waktu itu kantornya masih menumpang di Collegie van Schepenen (sekarang gedung Museum Sejarah Jakarta, yang dimasa pemerintahan kolonial dikenal  sebagai Stadhuis/Balai Kota). Perkara Nie Hoe Kong baru diputuskan tiga tahun kemudian, dan pada 22 Mei 1744, Nie Hoe Kong dijatuhi hukuman buang (deportasi) ke Sri Langka. Ia mengajukan permohonan agar hukuman buang itu dipindahkan ke Ambon. Tanggal 12 Februari 1745 bersama keluarganya Nie Hoe Kong berangkat ke Ambon dan pada 23 Desember 1746 ia meninggal disana.