MONTULUNGI PADA SUKU BANGSA SALUAN DI KABUPATEN BANGGAI SULAWESI TENGAH

Pengarang: 

JOYLY RAWIS

Penerbit: 

KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

Tahun Terbit: 

2011

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Tengah
Rak: 

KET - 305.8 (300-309) 

ISSN/ISBN: 

978-602-9052-11-4

Jumlah Halaman: 
142

Di wilayah Banggai terdapat beberapa suku bangsa asli seperti suku bangsa Balantak, Banggai, Masama, Bajo dan Saluan. Suku bangsa Saluan merupakan yang terbesar dan menyebar di sebagian besar pesisir timur daerah di Kabupaten Baggai Sulawesi Tengah. Sejak perkembangannya, suku bangsa Saluan telah mengembangkan kebudayaannya, tapi tidak lepas dari berbagai pengaruh dan corak kebudayaan lain. Walaupun demikian, setidaknya memiliki perwujudan budaya dengan ciri khasnya tersendiri yang patut diketahui dan diresapi kearifannya untuk dijadikan kerangka acuan dalam menuju kehidupan dan falsafah hidup suku bangsa Saluan. Masyarakat suku bangsa Saluan sejak dahulu mengeal berbagai bentuk kerjsama baik di lingkungan keluarga, kerabat maupun desa. Kerja sama atau gotong royong dalam istilah umum adalah montulangi dimana meminta bantuan orang lain atau warga desa secara sukarela untuk menghadapi pekerjaan secara bersama-sama. Masyarakat suku bangsa ini secara tradisional mengenal lembaga sosial adat dengan nama Seba/Musyawarah Adat Banggai. Setiap suku bangsa lokal maupun pendatang untuk menunjukkan identitasnya telah membentuk organisasi sosial kerukunan atau paguyuban sesuai ciri khas atau nama asal daerahnya.