MOLAPI SARONDE DALAM ADAT PERKAWINAN GORONTALO

Pengarang: 

SALMIN DJAKARIA, DKK

Penerbit: 

BPNB MANADO

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Gorontalo
Rak: 

RKE - 793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-602-9374-66-7

Jumlah Halaman: 
32

Molapi Saronde secara harfiah terdiri atas kata molapi artinya menjatuhkan salentangi (selendang) yilonta (wewangian yang terbuat dari aneka kembang dan dedaunan rempah-rempah yang dicampur dengan minyak kelapa), selanjutnya disebut Saronde. Maksudnya ialah mempersilakan menari dengan selendang yang harum semerbak kepadacalon pengantin laki-laki, dalam acara mopotilantahu (mempertunangkan), sebagai bagian dari tata cara moponika (perkawinan) menurut ketentuan adat Gorontalo. Rangkaian acara juga disebut molile huwali (meninjau kamar) dengan maksud memberi kesempatan kepada calon mempelai laki-laki untuk memastikan calon isteri yang akan dinikahi sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Selain itu, calon mempelai laki-laki melalui tarian tersebut berkesempatan meninjau dan memastikan penataan kamar tidur yang dipersiapkan sesuai keinginannya. Tujuannya adalah untuk mewujudkan prosesi perkawinan adat secara ideal sebagai gerbang pencapaian keluarga sejahtera, sakinah mawaddah dan warahmah. Acara ini dilaksanakan pada malam hari ”H” pernikahan. Mengikuti prosesi tertentu, molapi sarondedimulai setelah selesai waktu pelaksanaan sholat Isya. Meski demikian, persiapannya dimulai dari rumah calon mempelai laki-laki meliputi pihak-pihak yang akan terlibat, perlengkapan, sarana prasarana dan jalannya upacara. Calon mempelai laki-laki akan menari (molapi saronde) dan berhenti setelah jaabu suluta (dari kata sultan) selesai. Diperkirakan syair/lagu tersebut di nyanyikan dengan durasi waktu sekitar 15-20 menit.