MENDU TEATER RAKYAT DAERAH KALIMANTAN BARAT

Pengarang: 

A.A KAMARUDDIN, BA

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1983/1984

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

792.02 (790-799)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
37

Mendu ada di Kalimantan Barat konon menurut kisahnya kira-kira tahun 1871 ada tiga orang putera dari Kota Mempawah yang pada saat itu masih merupakan sebuah kerajaan pergi merantau ke Kalimantan Utara yaitu menuju kerajaan Brunai, karena antara raja di Brunai ada hubungan keluarga dengan raja di Mempawah. Lima tahun lamanya mereka merantau, banyak sekali pengalaman yang mereka dapatkan dari perjalanan itu. Salah satu pengalaman yang didapatkan adalah mereka tertarik akan sebuah kesenian yang mereka pelajari, kesenian itu sekarang disebut mendu. Ditilik dari bentuknya mendu dapat digolongkan kedalam teater tradisional. Teater tradisional dibagi lagi menjadi teater rakyat, teater klasik, teater transisi. Apabila kita mneyaksikan teater rakyat termasuk mendu, disamping menikmati cerita dan suguhannya sebagai bahan tontonan, tetapi ada sesuatu yang sangat penting sehingga teater dapat berfungsi sebagai alat penyampai pesan yang dapat disisipkan atau involve kedalam cerita yang disuguhkan, baik misi pendidikan, penerangan dan pembangunan yang kebanyakan tidak disajikan secara langsung. Dan tidak kalah pentingnya berfungsi sebagai pengungkapan rasa estetis, sehingga bagaimanapun juga upaya peningkatan mutu seninya baik dialog maupun aktingnya selalu diperhatikan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa melayu daerah dialek Mempawah/Pontianak dan dalam pementasannya bahasa teater terpelihara dengan baik diperkaya dengan pepatah dan petitih yang diucapkan dengan padu dan laras. Arena tempat pementasan di sebuah panggung dan tempat penontonnya alam terbuka dimana bebas menonton. Perlengkapannyapun sederhana dan disesuaikan dengan keadaan setempat. Pada panggung digunakan layar yang dapat diganti suasananya. Dan dilengkapi beberapa kursi dan sebuah meja. Peralatan musik pengiring terdiri dari sebuah biola, gendang dan tawak-tawak. Busana yang digunakan sederhana dan lebih mengutamakan segi warna. Antara penonton dan pemain tidak ada batasnya dan kadang-kadang pemain berdialog dengan penonton, yang berarti melibatkan penonton dalam membawakan ceritanya lebih pada adegan lawak yang dibawakan oleh khadam. Pemimpin pertunjukan disebut mahnijar yang sama dengan sutradara. Pertunjukan dilakukan pada malam hari dan diterangi dengan lampu petromax, dan baru akhir-akhir ini saja dipergunakan listrik karena malam hari waktunya warga untuk beristirahat. Sebagai hiburan mereka setelah melakukan kesibukan pada siang harinya mereka menonton pertunjukan mendu.