KUASA KALA :  BAWEAN DALAM LINTAS NARASI

Pengarang: 

ALIFAH, ARIF ARDIANTO, GUSLAN GUMILANG, HENY BUDI SETYORINI, HERY PRISWANTO, KHAIRL ANWAR, M. FAUZI HENDRAWAN, M. TAUFIQ, MUSLIM DIMAS KHOIRU DHONY, SUTANTO TRIJUNI PUTRO

Penerbit: 

BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2020

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

ARK - 902.930 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-623-91488-7-4

Jumlah Halaman: 
166

Kesendirian Pulau Bawean, tidak benar-benar sendiri melainkan bagian dari daratan tua Paparan Sunda yang menyatukan Semenanjung Tanah Melayu, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Termasuk juga didalamnya ada Kepulauan Riau, Bangka-Belitung, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bawean, dan Kepulauan Madura. Sebagaimana halnya Pulau Muria (di Jepara), Pulau Bawean merupakan sebuah pulau gunung api purba. Secara teoritis tanah di Bawean cukup subur bagi pertanian karena mengandung zat-zat hara. Pulau Bawean merupakan salah satu pulau yang tidak luput dari okupasi para pendatang penutur rumpun Bahasa Austronesia. Penelitian arkeologi di Bawean berhasil menemukan bukti-bukti okupasi penduduk dari masa prasejarah berupa alat-alat batu paleolitik dan neolitik. Kehidupan purba yang mungkin telah ada sebelum kedatangan manusia di Bawean, ditemukan berupa fosil stegodon di daerah perbukitan sisa gunung api purba. Boleh jadi pada masa plestosen bawah sampai plestosen atas yang kira-kira berlangsung pada 50.000 tahun yang lalu. Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, Bawean termasuk dalam jaringan pelayaran milik pemerintah kolonial Belanda. Ini merupakan indikasi pentingnya posisi Bawean dalam jaringan pelayaran di Hindia Belanda. Bawean merupakan laboratorium sejarah budaya maritim yang cukup penting tidak hanya bagi Kabupaten Gresik. Mengingat pentingnya potensi alam dan budaya, pemerintah Provinsi Jawa Timur diharapkan untuk lebih meningkatkan upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan potensi yang ada di Bawean.