KOTA PELABUHAN SEMARANG DALAM KUASA KOLONIAL :  IMPLIKASI SOSIAL BUDAYA KEBIJAKAN MARITIM, TAHUN 1800AN-1940AN

Pengarang: 

DWI RATNA NURHAJARINI, INDRA FIBIONA, SUWARNO

Penerbit: 

BPNB D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

SKO - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-978-8971-99-0

Jumlah Halaman: 
170

Implikasi pengembangan kota pelabuhan masa kolonial terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat di Pesisir Laut Jawa khususnya di Semarang terlihat signifikan terutama mengubah lanskap sosial budaya di wilayah kota pelabuhan tersebut. Semarang pada masa kolonial dikenal dengan wilayah yang ramai serta memiliki aktivitas perniagaan yang tinggi. Hal ini menyebabkan banyak kapal-kapal singgah bahkan masuk hingga ke kanal mendekati wilayah kota. Kondisi ekologis di wilayah Semarang sebenarnya mengalami perubahan yang signifikan pada masa kolonial, dimana perkampungan terutama yang ditempati oleh pedagang dan buruh migran bekembang sangat pesat. Semarang menjadi pelabuhan vital terbesar ke-2 pada medio abad XIX dan ke -3 pada abad XX. Hal ini menyebabkan pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan secara berkelanjutan untuk pengembangan pelabuhan Semarang dan juga tata kota Semarang. Pengembangan kota pelabuhan tentunya memiliki dampak atau implikasi terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat kota pelabuhan Semarang. Pekerja pelabuhan dan pedagang di pelabuhan Semarang semakin bertambah pada abad XIX hingga awal XX. Pelabuhan Semarang juga memiiki ekses negatif terutama berkaitan dengan patolgi sosial di wilayah kota Semarang dan Pulau Jawa pada umumnya. Perkembangan pelabuhan juga berimplikasi ada perkembangan budaya masyarakat kota pelabuhan Semarang. Pada abad XIX hingga awal XX muncul beragama budaya lintas etnis di kota Semarang.