KISAH PUTROE PHANG DARI ACEH

Pengarang: 

SYAMSIAH ISMAIL, ARYA PERKASA

Penerbit: 

DIREKTORAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YME DAN TRADISI

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

CRA - 398.26 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-6477-40-8

Jumlah Halaman: 
40

Zaman dulu Aceh punya raja hebat bernama Sultan Iskandar Muda. Beliau memimpin pada tahun 1016-1046 Hijriah. Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaan. Pada suatu ketika,  Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Negeri Pahang, Malaysia. Dan akhirnya sekitar 10.000 penduduknya ikut Sultan ke Aceh untuk memperkuat pasukan Sultan. Sultan Iskandar Muda rupanya tertarik dengan seorang puteri dari Pahang yang bernama Puteri Kamaliah. Puteri Kamaliah kemudian dinikahi Sultan Iskandar Muda dan diangkat menjadi permaisurinya. Dari pernikahan ini mereka mendapatkan seorang putra bernama Meurah Pupok. Karena Puteri Kamaliah berasal dari Pahang, rakyat Aceh memanggilnya dengan Putroe Phang. Putroe Phang tidak hanya cantik, tetapi cerdas dan bijaksana dalam memutuskan persoalan. Pada suatu ketika kejadian tragis menimpa anaknya, yaitu melanggar aturan agama Islam, sehingga perbuatannya tidak dapat dimaafkan. Sehingga menyebabkan ia tewas di ujung pedang ayahnya sendiri, meskipun Permaisuri Putroe Phang dengan berurai air mata meminta Sultan tidak menghukumnya. Tidak lama, Putroe Phang pun mangkat. Jenazah di sholatkan di Mesjid Raya Baiturrahman, lalu dibawa ke pemakaman raja-raja di Komplek Keraton Darud Donya. Hidup Sultan sedih tanpa tanpa putra mahkota dan permaisurinya. Raja yang adil, bijaksana dan dicintai rakyatnya itu pun jatuh sakit dan tak lama beliau juga mangkat. Tahta kerajaan kemudian dipegang oleh menantu sekaligus anak angkatnya, Sultan Iskandar Tsani dari Pahang. Kini makam Sultan terletak di komplek Rumoh Aceh.