KILASAN SEJARAH DAN ARKEOLOGI BEBERAPA GEDUNG GEREJA DI SUMATERA UTARA

Pengarang: 

LUCAS PARTANDA KOESTORO

Penerbit: 

PT BINA MEDIA PERINTIS

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

AGA-275.98 (270-279)

ISSN/ISBN: 

978-979-751-827-1

Jumlah Halaman: 
115

Sejarah pengkristenan di Sumatera Utara dalam hubungannya dengan kontak budaya, diketahui bahwa misionaris merupakan penyebar terkemuka budaya asing dan zending adalah lembaga penyelenggara pendidikan. Di Tano Batak, zending Jerman memasukkan unsur-unsur budaya yang menjadi tradisi dalam kebudayaan di Jerman  dalam tata cara pelayanan gereja Batak. Gedung gereja dibangun menurut gaya Jerman yang sama sekali berbeda dengan gaya bangunan Batak yang bercirikan atap yang indak melengkung. Demikian pula dengan kebiasaan menempatkan lonceng besar di menara gereja. Lambat laun orang Batak menjadi terbiasa dengan hal itu dan beranggapan bahwa sebuah bangunan gereja yang lengkap harus dibuat menurut gaya khas tersebut. Sejumlah fakta yang didapat melalui pengamatan atas beberapa gedung gereja di Sumatera Utara merupakan data penting guna pengungkapan bagi pengenalan berbagai aspek kehidupan manusia masa lalu di wilayah tersebut. Dapat dikemukakan bahwa, bangunan gedung gereja pada masa awal pertumbuhan dan perkembangan. Kristen di Sumatera Utara menggunakan konstruksi dinding bata dan atap pelana. Bangunan memiliki banyak bukaan berbentuk persegi panjang. Fasad bangunan hampir simetris, dengan adanya menara di sisi kiri bangunan memberikan variasi pada bentuk bangunan. Secara keseluruhan memiliki signifikansi estetika yang spesifik, yang memperkuat karakter kawasan.  Gaya arsitektur neoklasik dan gaya arsitektur borjuisi Belanda/Eropa, segera disesuaikan dengan iklmim tropis. Plafonnya tinggi, dinding tebal, lubang ventilasi ditempatkan di berberbagai sudut, jendela lebar berkisi. Memelihara keberadaan gedung gereja lama, baik yang masih difungsikan sebagai tempat peribadatan pokok maupun fungsi lain berkenaan dengan kekristenan adalah juga upaya menjaga kelestarian warisan budaya.