KESENIAN SANDUR DALAM HAJATAN REMOH MASYARAKAT BANGKALAN MADURA

Pengarang: 

THERESIANA ANI LARASATI, WAHJUDI PANTJA SUNJATA, THERESIA ESTI WURYANSARI

Penerbit: 

BPNB D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

RKE - 792.02 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-61-7

Jumlah Halaman: 
128

Asal usul kesenian Sandur Bangkalan Madura berawal dari kesenian Salabadhan yang sudah dikenal masyarakat Madura lebih dari 50 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya istilah Salabadhan kemudian dimaknai sebagai kata sala yang berarti salah dan badhan yang mempunyai makna badhan, sehingga salabadhan mempunyai arti salah badan. Dalam perkembangannya, menjelang pemilu tahun 1977 kesenian ini berubah namanya menjadi kesenian sandur. Perkembangan organisasi kesenian Sandur Bangkalan mulai tahun 1986 ditandai dengan berdirinya Grup Sandur Sawunggaling dibawah pimpinan Bapak Mad Tikram. Saat ini, pertunjukan kesenian ini merupakan pergelaran seni yang dikemas sederhana sesuai dengan kebutuhan penanggapnya, yaitu untuk keperluan kegiatan remoh. Kelancaran dan kesuksesan acara remoh sangat tergantung dari beberapa pendukung acara, seperti pemain sandur, panitia dan penonton. Pemainnya merupakan para seniman diantaranya penari, pengrawit dan penyanyi. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi pementasan adalah seperangkat gamelan laras slendro. Para pengrawit memainkan alat musik selama pertunjukan sandur berlangsung dengan membawakan gending-gending. Busana yang digunakan oleh penari dalam kesenian sandur dibedakan menjadi dua sesuai tariannya, yaitu busana tari dhung-ndhung dan lenggek. Fungsi kesenian Sandur saat ini lebih sering digunakan sebagai pendukung kesenian pada hajatan remoh. Fungsi Sandur bagi penonton dari kalangan tamu undangan antara lain sebagai ajang bergotong royong dan kebersamaan. Sedangkan bagi para seniman, dengan mengikuti kesenian ini mereka mendapatkan tambahan uang penghasilan.