KESENIAN MASYARAKAT MELAYU DI JAMBI

Pengarang: 

SYAHRIAL DE SAPUTRA, DKK

Penerbit: 

BPSNT TANJUNGPINANG

Tahun Terbit: 

2008

Daerah/Wilayah: 
Jambi
Rak: 

9.1 (JP)

ISSN/ISBN: 

0853-2923

KESENIAN MASYARAKAT MELAYU DI JAMBI

 

Buku ini memuat beberapa judul yaitu : 1) Kesenian Masyarakat Melayu di Jambi oleh Syahrial De Saputra. Seni musik masyarakat melayu di Jambi adalah musik dadung. Dadung diartikan berbalas pantun. Beberapa kesenian tari di Jambi adalah Tari Kecimbung Ampai, Tari kabisai, Tari Ketalang Petang, Tari Kipas Parentak, Tari Mangkuk Barentak, Tari Pisau dan Tari Ketalang Petang; 2) Biografi Abdulrahman Sayuti oleh Anastaia Wiwik Swastiwi. Sejak pengangkatan beliau sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi secara ex-office juga menjabat Ketua Dewan Pengawas Bank Pembangunan Daerah Jambi. Selama masa kepemimpinan beliau, sedikit banyak telah membawa peningkatan-peningkatan terhadap kinerja BPD Jambi; 3) Makanan Tradisional Cina di Pangkalpinang oleh Dwi Setiati. Pembagian jenis kelompok makanan berdasarkan fungsinya, jenis makanan Cina yang digunakan untuk upacara dan makanan yang santap sehari-hari; 4) Pengobatan Melayu oleh Siti Rohana. Tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan pengobatan antara lain : Adas, Asam Gelugur, Asam Jawa, Belimbing tanah, Benalu, Kembang Sepatu, dll; 5) Senjata Tradisional Masyarakat Melayu oleh Novendra. Senjata tradisional yang dimiliki masyarakat Melayu pada zaman kerajaan dahulu hungga sekarang, tidak hanya digunakan sebagai alat untuk menyerang dan mempertahankan diri, namun juga menjadi penghubung anatara sesame warga masyarakat dalam bidang ekonomi, kekerabatan, politik dan kepercayaan;6) Pulau Sekatung:Kajian Sejarah Wilayah Perbatasan oleh Nuraini.Di pulau Sekatung ini terdapat titik referensi dan titik dasar yang dipergunakan dalam penarikan batas Indonesia-Vietnam; 7) Mandi Balimau oleh Evawarni. Pelaksanaan mandi balimau bertujuan untuk pengobatan karena diguna-guna manusia (ilmu hitam), untuk pemberi semangat bayi yang baru turun ke tanah atau mandi pertama kali ke sungai Kampar, untuk mengusir setan yang mengganggu manusia, untuk membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan dll.