KESENIAN GLIPANG LUMAJANG BENTUK PERTUNJUKAN DATA DAN EKSISTENSI GRUP BINTANG BUDAYA

Pengarang: 

TH. ESTI WURYANSARI, ERNAWATI PURWANINGSIH

Penerbit: 

BPNB YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

RKE - 793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-81-5

Jumlah Halaman: 
130

Glipang merupakan salah satu kesenian tradisional Kabupaten Lumajang yang hingga kini masih bertahan, meskipun harus menghadapi persaingan dengan kesenian modern di tengah perkembangan zaman. Dalam grup kesenian Glipang Bintang Budaya dikenal dua istilah yaitu juragan dan panjhak. Dalam istilah setempat, pimpinan kelompok Glipang disebut sebagai juragan. Setiap juragan akan mempunyai panjhak yang terdiri dari penari dan penabuh. Alat musik pengiring dalam kesenian ini terdiri dari 2 ketipung, 1 jidor, 1 kecrek dan 5 terbang. Keseniang Glipang terdiri dari 3 babak (tarian), yaitu tari santrian, kiprah dan baris lima/polisi. Jumlah penari masing-masing tarian berbeda-beda yaitu ada yang 5 dan 1 orang. Kostum yang digunakan juga berbeda antara satu dengan yang lainnya. Untuk lagu atau kejung yang selalu dilantunkan adalah awa yaro, lagu bernafas islami dengan bahasa campuran Jawa dan Madura, berupa ajakan untuk berbuat kebaikan yaitu ajakan bershalawat. Kesenian Glipang mempunyai fungsi sosial dan hiburan. Kesenian ini sebagai ajang silaturahmi, menambah kerekatan hubungan antarwarga masyarakat, mempererat rasa persaudaraan. Kesenian Glipang juga masih tetap menjadi hiburan, khususnya masyarakat Desa Curahpetung, dan umumnya masyarakat Kabupaten Lumajang.