KESENIAN CACI NUSA TENGGARA TIMUR

Pengarang: 

PROF. Dr. I MADE SUASTIKA, S.U, DKK

Penerbit: 

BPNB BADUNG

Tahun Terbit: 

2012

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Timur
Rak: 

RKE - 793.4 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-602-7961-00-5

Jumlah Halaman: 
22

Caci merupakan kesenian tradisional masyarakat Manggarai. Secara harfiah, caci berarti satu lawan satu, saling memukul dan menangkis. Permainan ini dilakukan oleh dua kubu. Kubu bukan dimaknai sebagai lawan, melainkan teman bertanding. Ini dikarenakan esensi caci adalah menguatkan semangat kekeluargaan. Permainan caci menjadi wujud ungkapan syukur masyarakat Manggarai. Biasanya digelar di depan rumah adat dan menjadi bagian dalam upacara seperti perkawinan, pentahbisan imam, penyambutan tamu kehormatan, atau peringatan hari kemerdekaan. Untuk menggelar permainan caci, masyarakat melakukan beberapa ritual diantaranya penti yang dilakukan di sawah dan mata air yang ada di desa tersebut. Permainan ini dilakukan dihalaman terbuka (Natas) karena jumlahnya puluhan ditambah penonton. Di sela permainan, para tua adat baik laki atau perempuan menari (danding) dan bernyanyi (mbata) dengan membentuk lingkaran. Instrumen yang digunakan untuk mengiringi permainan adalah nggong/gong dan tambur tembong/gendang. Peralatan yang digunakan oleh pemain caci antara lain nggiling/perisai (memiliki makna sebagai batas dunia), agang (digunakan untuk menangkis), larik/cemeti/cambuk (diibaratkan sebagai halilintar atau kilat). Kelengkapan kostum yang digunakan diantaranya panggal (sebagai pelindung kepala), nggorong/giring-giring (fungsinya menambah kegagahan pemain), lipa songke/kain songke (dipakai hanya sebatas lutut), tubi rapa (sebagai pelindung wajah), selendang yang diikat dipinggang, ndeki (sebagai pelindung punggung). Nilai yang terkandung dari kesenian caci diantaranya nilai ketuhanan, kebersamaan, disiplin, kelembutan, dll.