KERAJAAN HULU AIK (STUDI SEJARAH TENTANG PERKEMBANGAN KERAJAAN HULU AIK)

Pengarang: 

FATHUL FUTUH TAMAM, ANITA, JUNIAR PURBA

Penerbit: 

BKSNT PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2007

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

KBA - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
79

Sejarah peradaban manusia di Kalimantan sudah berlangsung lama. Namun didalam kurun waktu sejarah peradabannya tidak berkesinambungan. Jauh sebelum penjajahan terjadi dibumi nusantara, orang Dayak telah berkembang ke dalam sub suku yang jumlahnya ratusan dan mendiami tanah-tanah di sekitar sungai dan anak-anak sungainya. Sub suku ini terbagi lagi kedalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dengan satuan komunitas yang disebut rumah panjang (rumah betang). Sebagai konsekuensi dari hegemoni negara dan kaum kapitalis, orang Dayak mengalami marginalisasi ekonomi, pengetahuan dan politik. Marginalisasi ekonomi diawali ketika negara dibawah rezim Orde Baru, dimana pemerintah yang berkuasa tidak menghormati kedaulatan masyarakat adat untuk mengelola komunitasnya secara mandiri, tanpa kontrol yang besar dari negara. Penghancuran rumah panjang yang dilakukan sebagai akibat dari munculnya rasa kekhawatiran pemerintah terhadap rasa solidaritas dan rasa persatuan yang kuat diantara penghuni rumah panjang serta penggantian yang diikuti dengan penghapusan fungsi temonggong yang semula menjadi kepala pemerintahan (tetua adat) di tingkat lokal diganti oleh kepala desa. Baru setelah masa reformasi dan otonomi daerah bergulir orang/masyarakat adat Dayak mempunyai akses yang lebih luas untuk menentukan nasibnya sendiri. Persamaan nasib sebagai orang yang tertindas telah mempersatukan orang-orang Dayak Ketapang yang selama ini tercerai berai ke dalam satu wadah perjuangan masyarakat Adat Dayak Ketapang yaitu Laman Sembilan Domong Sepuloh yang dikepalai oleh seorang raja yaitu Raja Singa Bansa (Raja Hulu Aik VI). Dan sebagai perwujudan dari perjuangan warga negara yang belum merdeka sepenuhnya, masyarakat Adat Dayak yang tergabung dalam masyarakat Laman Sembilan Domong Sepuloh menetapkan 13 Agustus sebagai Hari Persatuan Dayak Ketapang. Selain penetapan tanggal 13 Agustus sebagai tonggak sejarah kebangkitan orang Dayak, adapula satu gerakan lagi yang menjadi motor penggerak bagi perjuangan masyarakat Dayak. Gerakan ini timbul sebagai akibat dari rsa kepedulian dan keprihatinan melihat orang Dayak yang sudah sejak lama dihina, ditindas, dijajah, dikucilkan dan dipinggirkan dari segala sektor kehidupan. Belajar dari pengalaman hidup yang didapat, motor penggerak Drs. Anselmus Robertus Mecer yang mengembangkan berbagai usaha yang bertujuan untuk membela dan memperjuangkan segala kepentingan masyarakat Dayak baik dibidang pendidikan, ekonomi, hukum, sosial dan budaya. Dengan mengambil ide dari alam beliau mendirikan sebuah Yayasan yang diberinya nama Pancur Kasih. Pemberian nama inipun disesuaikan dengan sebuah tempat keramat yang terdapat ditanah kelahirannya di desa Menyumbung yaitu Pancur Keramat yang merupakan sumber mata air bagi masyarakat yang terdapat di kerajaan Hulu Aik.