KEPULAUAN RIAU PADA MASA DOLLAR

Pengarang: 

SRI SUTJIATININGSIH, GATOT WINOTO

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1999

Daerah/Wilayah: 
Riau
Rak: 

SEK - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

979-9335-08-6

Jumlah Halaman: 
107

Berdasarkan sejarah penduduk di ketiga kawasan (Singapura, Malaysia dan Riau) adalah serumpun, karena mereka sama-sama mengakui bahwa Nila Utama yang bergelar “Sri Tri Buana” yang datang dari Bukit Siguntang Mahameru di Palembang (Sriwijaya) adalah cikal bakal raja-raja Melayu Riau dan kawasan Semenanjung. Letak Selat Malaka yang demikian strategis, sebagai jalur lalu lintas pelayaran dunia pada gilirannya membuat bandar Singapura menjadi pelabuhan yang tidak hanya digunakan untuk membongkar dan atau membuat barang jasa, tetapi juga sebagai tempat persinggahan sementara (transit) kapal-kapal yang akan melanjutkan perjalannya ke tempat lain. Kemudian menjadi tujuan para pedagang untuk memasarkan dagangannya, kebanyakan keturunan Cina yang berperan sebagai pedagang perantara. Sebagai alat tukar yang digunakan adalah dollar yang nilainya lebih tinggi daripada rupiah. Namun, sejak diberlakukannya kebijakan moneter 15 Oktober 1963, lambat laun kehidupan masyarakat Kepulauan Riau tidak semakmur pada zaman dollar. Kebijakan Oktober 1963 antara lain berisi pelarangan penggunaan mata uang asing (dolar) Malaysia dan Singapura. Dan ini artinya bahwa “zaman dollar” telah berakhir.