KEARIFAN LOKAL SUKU HELONG DI PULAU SEMAU KABUPATEN KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR

Pengarang: 

I MADE SATYANANDA

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Timur
Rak: 

3.1(300-31

ISSN/ISBN: 

978-602-258-122-2

KEARIFAN LOKAL SUKU HELONG DI PULAU SEMAU KABUPATEN KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR

 

Setiap adat istiadat dan budaya masyarakat suatu suku bangsa yang hidup di tengah-tengah masyarakat selalu memiliki bentuk, nilai maupun norma yang memberikan suatu kearifan lokal bagi keberlangsungan hidup suatu suku bangsa dalam wilayahnya, baik dalam pengelolaan alam maupun sosial masyarakatnya. Kearifan lokal dalam adat istiadat dan budaya suku Helong memiliki ciri khas yang spesifik dengan bentuk-bentuknya yang berbeda dengan adat istiadat dan budaya suku lainnya yang ada di Pulau Timor. Suku Helong merupakan suatu suku pendatang yang berasal dari Tanjung Helong wilayah Kisar Provinsi Maluku datang merantau ke Pulau Timor dengan membawa adat istiadat dan budaya asli mereka hingga kini masih tetap dipertahankan, sekalipun pada masa sekarang banyak tergeser oleh budaya Kristen. Budaya Suku Helong dengan kearifan lokalnya sangat mendominasi di wilayah Timor Barat, seperti nama-nama tempat yang hingga kini masih tetap dalam bahasa Helong yaitu seperti Atapupu, Kupang, dan lainnya. Kearifan lokal dalam adat istiadat dan budaya Suku Helong memiliki ciri khas yang spesifik dengan bentuknya yang berbeda dengan adat istiadat dan budaya suku lainnya yang ada di Pulau Timor. Kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan alam dalam suku Helong tercermin pada pengelolaan laut yang disebut Uin Lulin (suatu bagan di laut yang dilarang bagi seluruh masyarakat suku Helong untuk menangkap ikan di sana). Kearifan lokal dalam pengelolaan pertanian, sosial dan adat istiadat dikenal istilah Nusi (bergotong royong), Butukila (ikat dan pegang rasa persaudaraan), Suki Toka Apa (saling mendukung dan menolong) yang didasari oleh pandangan hidup Muki Nena (rasa saling memiliki dan mempunyai) membuat suku Helong bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat dan adat hingga sekarang. Rasa religius dari masyarakat suku Helong yang membuat mereka selalu mensyukuri apa yang menjadi milik dan kepunyaannya (Muki Nena) sehingga masyarakat suku Helong memaknai kehidupannya dengan kesederhanaan, yang merupakan makna dasar dari kearifan lokal budayanya.