KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI NYADRAN MASYARAKAT SEKITAR SITUS LIANGAN

Pengarang: 

ERNAWATI PURWANINGSIH, DKK

Penerbit: 

BPNB DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Jawa Tengah
Rak: 

393 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-63-1

Jumlah Halaman: 
116

Situs Liangan berada di Dusun Liangan, Desa Purbosari, Kec. Ngadirejo, Kab Temanggung. Masyarakat sekitar Liangan sebenarnya memiliki beberapa macam tradisi sadranan, dari sadranan makam, miwit tandur tembakau hingga tuk tempurung. Namun demikian, sadranan yang bersinggungan dengan keberadaan situs Liangan adalah sadranan tuk Tempurung. Sebelum ditemukannya situs Liangan, penyelenggaraan sadranan hanya sederhana saja, yaitu dengan diawali ziarah makam dan kemudian dilanjutkan dengan tahlilan di balai desa. Namun setelah ditemukannya situs, masyarakat Liangan mengemas ritual lebih meriah. Sesaji sadranan semula dibuat oleh masing-masing keluarga didoakan secara bersama-sama di balai Desa Purbosari. Tradisi nyadran mengandung nilai kearifan kosmis hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungannya. Tradisi nyadran sebagai ungkapan rasa syukur dan treima kasih kepada Sang Pencipta, yang senantiasa memberi kemurahan rezeki, kenikmatan sehingga mata air tempurung dapat terus mnegalir dan memberi kehidupan pada masyarakat di sekitar Liangan. Tradisi nyadran merupakan tradisi penyelaras, yaitu pemenuhan kebutuhan lahir dan batin. Tradisi nyadran dapat meningkatkan solidaritas masyarakat, kebersamaan antarwarga, menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan, mengajarkan untuk saling bertoleransi, bersikap baik dengan sesama, diri sendiri, maupun makhluk gaib.