KAKAWIN SUTASOMA

Pengarang: 

MPU TANTULAR

Penerbit: 

KOMUNITAS BAMBU

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

SAS - 899 (890-899)

ISSN/ISBN: 

978-602-9402-94-0

Jumlah Halaman: 
539

Buku Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh penyair Mpu Tantular ini diterjemahkan oleh Dwi Woro Retno Mastuti dan Hastho Bramantyo. Syair ini digubah pada zaman Raja Rajasanagara, atau Hayam Wuruk – ketika Majapahit berada di puncak kekuasaannya diparuh kedua abad ke-14. Di bagian manggala nama Rajasanagara disebutkan. Dewa yang dipuja oleh sang penyair adalah Sri Bajrajnana, yang namanya tercantum di bait pertama teks Sutasoma. Kata istadewata pada bait pertama (1.1a) mengacu kepada Sri Bajrajnana. Kakawin Sutasoma diperkirakan ditulis dari tahun-tahun sesudah 1365, ketika Nagarakertagama diselesaikan, dan sebelum tahun 1389, ketika Rajasanagara telah mangkat. Di dalam kakawin Sutasoma, salah satu rangkaian liriknya telah dikenal oleh bangsa Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika yang artinya bermacam-macam suku bangsa tetapi tetap satu tujuan. Di abad ke-14, masyarakat Siwa-Buddha bersama-sama membangun kerajaan Majapahit. Berbeda tapi tetap satu tujuan. Berbeda agama, untuk satu kejayaan Majapahit. Karya sastra ini juga memuat harapan agar raja Majapahit saat itu, yaitu Rajasanagara yang dianggap sebagai titisan Siwa atau Buddha bisa memerintah kerajaannya sebagaimana baiknya seorang raja Dunia (cakravartin) untuk membawa kesejahteraan lahir-batin kepada seluruh warga yang diperintahnya, dan agar dharma ditegakkan untuk menghancurkan kuasa zaman kegelapan atau kaliyuga.