KAJIAN SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN DI PESISIR WAINGAPU KABUPATEN SUMBA TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Pengarang: 

NURYAHMAN, I KETUT SUDHARMA PUTRA, DWI BAMBANG SANTOSA

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Timur
Rak: 

SSO - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

602-258-241-0

Jumlah Halaman: 
120

Masyarakat Sumba Timur bersifat heterogen, baik dari segi mata pencaharian, suku bangsa maupun agamanya. Mengenai keberadaan masyarakat nelayan di Kabupaten Sumba Timur, berdasarkan tulisan yang telah ada, menjelaskan bahwa leluhur masyarakat Sumba Timur berasal dari Seenanjung Malaka melalui Kepulauan Riau, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Roti, Sawu, dan akhirnya tiba di Tanjung Sasar (Sumba). Kedatangan penduduk luar ke Pulau Sumba terus berlangsung hingga sekarang. Berdasarkan keterangan masyarakat pesisir Waingapu, leluhur mereka berasal dari bugis. Maksud kedatangannya bukan semata-mata untuk menangkap ikan, namun dibarengi pula dengan tujuan lain yaitu melakukan syiar (penyebaran agama Islam). Masyarakat pesisir Waingapu Kabupaten Sumba Timur masih tetap mempertahankan tradisi dan budaya masyarakatnya, khususnya nelayan. Masyarakat nelayan sampai sekarang masih meyakini kepercayaan dan pantangan-pantangan yang telah ada, dan apabila hal tersebut dilanggar akan berakibat buruk bagi yang melanggarnya. Pesisir Waingapu memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan baik potensi alam, sosial maupun budaya. Khusus mengenai sumber daya alam, pesisir Waingapu mempunyai berbagai potensi diantaranya memiliki kondisi alam pantai yang sangat indah dan strategis, mempunyai kekayaan alam laut seperti rumput laut, ikan, mutiara dan lain-lain. Mata pencaharian sebagai nelayan di pesisir Kelurahan Kamalaputi, Kecamatan Kota Waingapu sampai sekarang masih tetap bertahan.