KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA ( SUATU TINJAUAN SEJARAH )

Pengarang: 

DRA. HENDRASWATI

Penerbit: 

BPSNT PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2009

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

KSE - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-8451-19-2

Jumlah Halaman: 
100

Jauh sebelum negara Republik Indonesia diproklamirkan, Amuntai (ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara sekarang) merupakan sebuah kerajaan yang menganut Agama Hindu yang bernama Kerajaan Negaradipa. Empu Jatmika adalah raja pertama kerajaan ini yang sekaligus sebagai pendirinya. Setelah ia wafat digantikan Junjung Buih. Raja berikutnya adalah Raden Suria Gangga Wangsa, dan raja keempat adalah Raden Sekar Sungsang. Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung, tepatnya 1959, terjadi pertempuran dengan Pangeran Samodera yang dibantu Sultan Demak yang dimenangkan oleh Pangeran Samodera. Maka sejak itulah kerajaan dipindahkan ke Kuin Banjarmasin yang kemudian bernama Kerajaan Banjar. Pada masa penjajahan Belanda, sejak 11 Juni 1860 Kerajaan Banjar dinyatakan dihapus. Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Kalimantan Selatan dan Kalimantan lainnya menjadi satu provinsi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan ibukota Banjarmasin. Kemudian setelah Kalimantan dipecah menjadi empat provinsi, Banjarmasin menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan berbagai dinamikanya, otonomi penuh baru diterima Kabupaten Hulu Sungai Utara sejak tanggal 1 Mei 1952. Beberapa tokoh pejuang Hulu Sungai Utara melawan penjajah Belanda diantaranya Penghulu Rasyid, Tumenggung Jalil, Datu Kandang Haji dan H. Abdullah, dsb.