JAKABARING SEBERANG ULU PALEMBANG TAHUN 1972-2011

Pengarang: 

ZUSNELI ZUBIR DAN SENO

Penerbit: 

BPNB SUMATERA BARAT

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Selatan
Rak: 

SKO - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-6554-01-7

Jumlah Halaman: 
267

Palembang adalah kota multikultur tempat bermukim orang-orang dari berbagai lintas etnis dan bangsa. Jakabiring sendiri adalah daerah di pinggiran Kota Palembang yang pada awalnya berupa kawasan rawa lebak yang tidak banyak berpenghuni. Kawasan ini adalah rawa yang saling dihubungkan dengan anak sungai yang sebagian besarnya merupakan dataran rendah atau daerah rawa lebak yang selalu tergenang air dan kekeringan dan sebagian lagi daerah rawa pasang surut yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada tahun 1950an, kawasan Jakabaring mulai dihuni para pemukim sekalipun dengan jumlah yang sedikit. Sampai akhir 1990an daerah ini masih dikenal sebagai daerah rawan kriminalitas. Sebagaimana Palembang yang multikultur, Jakabaring pada periode 1970-1990 juga menampilkan wajah beragam etnis. Nama Jakabaring itu sendiri adalah sebuah akronim yang disusun dari nama kelompok etnis awal yang mendiami kawasan Jakabaring. Munculnya Jakabaring sebagai pintu gerbang migran awal kota Palembang pasca kemerdekaan, terlebih setelah pembangunan Jembatan Ampera pada tahun 1960-an, menyebabkan Jakabaring muncul sebagai penampung utama aliran berbagai pendatang ragam etnisitas. Jakabaring kemudian berkembang sebagai daerah yang heterogen kemudian menuju kehidupan yang pluralitas yang majemuk, dan berkembang menjadi manusia kota itu sendiri. Kawasan ini semakin berkembang sejak Palembang dipilih sebagai tuan rumah PON 2004 dan Sea Games 2011. Pada dasawarsa awal abad ke-21 berakhir, kawasan Jakabaring disulap menjadi kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan menjadi kawasan terpadu. Kawasan Jakabaring lalu menjadi salah satu pusat perkembangan kawasan pinggiran di Kota Palembang. Pembangunan ini sedikit-banyak berimplikasi pada integrasi di kawasan Jakabaring.