INVENTARISASI GENJEK SENI KARAWITAN BALI DI DESA NGIS, KECAMATAN ABANG, KABUPATEN KARANGASEM, PROVINSI BALI

Pengarang: 

I MADE PURNA, I MADE DHARMA SUTEJA, I GUSTI NGURAH JAYANTI, COKORDA ISTRI SURYAWATI, I MADE SUMARJA, I PUTU KAMASAN SANJAYA, I GUSTI AYU AGUNG SUMARHENI

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2018

Daerah/Wilayah: 
Bali
Rak: 

RKE-793.3 (790-799)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-211-4

Jumlah Halaman: 
204

Seni karawitan genjek mulanya adalah suatu tradisi  petani di wilayah Karangasem. Seni ini telah dikenal sejak zaman masa feudal atau kerajaan di Bali khususnya di Karangasem. Kesenian ini telah hadir di masyarakat dan mentradisi atau membudaya, yang dilakukan oleh para petani dan warga masyarakat sejak dulu sebagai selingan atau mengisi waktu luang takkala selesai bekerja di sawah atau tegalan. Genjek juga dikenal dengan istilah megegonjakan yang lebih dimaknai sebagai gurauan, atau sindiran dengan teman atau kebetulan berkumpul pada saat itu. Suguhan minuman tuak takkala megegonjakan atau yang sekarang bertranformasi menjadi seni karawitan genjek, akan membawa damapak terhdap peserta megenjekan tersebut. Setiap kali berkumpul dan ikut dalam arena genjek, seseorang sudah siap ikut serta berpartisipasi dalam minum tuak. Genjek yang dulunya memiliki konotasi yang kurang baik karena adanya unsur minuman tuak didalamnya mulai diatur atau ditiadakan. Para seniman mulai melirik potensi genjek ini sebagai suguhan dalam konsteks berkesenian. Beberapa seniman genjek sekarang mencoba membuat lagu-lagu yang bernuansa pencintaan, program pemerintah dan juga lagu-lagu masa kekinian. Ada pembagian tugas kepada peserta yang ikut berkesenian genjek, diantaranya sebagai penyanyi, pemebri nada, pemberi ritmis dan ada juga sebagai penarinya. Selain itu perubahan yang dapat dilihat dari kesenian ini sekarang yaitu sudah mulai menggunakan koreografi yang apik dan penataan suara dalam pementasan-pementasan untuk sajian karya seni karawitan genjek.