INTERAKSI MASYARAKAT PERBATASAN PROVINSI SUMATERA SELATAN DAN BENGKULU

Pengarang: 

ROIS LEONARD ARIOS DAN YONDRI

Penerbit: 

BPSNT PADANG

Tahun Terbit: 

2009

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Selatan
Rak: 

KSB - 304.4 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-602-8742-00-9

Jumlah Halaman: 
72

Posisi Kota Lubuklinggau yang berada pada jalur lintas Sumatera menjadi faktor utama yang mempengaruhi dinamika penduduk terutama di daerah perbatasan. Dinamika kehidupan masyarakat di daerah ini terutama tampak dari tingginya mobiltas penduduk Kota Lubuklinggau sendiri dan penduduk dari luar Kota Lubuklinggau. Secara budaya tidak ada pengaruh signifikan antara masyarakat di wilayah Kecamatan Padang Ulak Tanding Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu dengan masyarakat yang berada di Kecamatan Lubuklinggau Barat terutama di Kelurahan Watas sebagai daerah administratif yang berbatasan langsung. Masyarakat kedua daerah merupakan satu suku bangsa yaitu suku bangsa Lembak (orang Dusun). Dengan kondisi ini maka konsep masyarakat pendatang tidak dipakai oleh masyarakat di kedua sisi perbatasan bagi penduduk masing-masing daerah perbatasan. Konsep pendatang hanya diberikan bagi masyarakat. Konsep pendatang ditujukan kepada masyarakat yang bukan suku bangsa asli Kabupaten Musi Rawas (termasuk Lubuklinggau) dan Kabupaten Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu. Kondisi ini memunculkan adanya perasaan yang sama dalam menyikapi kehidupan kemasyarakatan tanpa memandang wilayah geografis dan administratif. Ekonomi dan perdagangan merupakan aktivitas yang paling dominan dalam kehidupan masyarakat sebagai kompensasi terbatasnya lahan pertanian.