IDENTITAS BUDAYA ORANG BAKUMPAI DI KALIMANTAN TENGAH

Pengarang: 

YUSRIADI

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2013

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Tengah
Rak: 

MKE - 306.4 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-602-1202-67-8

Jumlah Halaman: 
196

Orang Bakumpai adalah nama untuk masyarakat yang tinggal di wilayah Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Mereka merupakan penduduk asli yang kini beragama Islam dan bertutur bahasa Bakumpai. Bahasa Bakumpai memang mudah dikenal karena memiliki ciri leksikal yang berbeda dibandingkan bahasa Banjar. Bahasa Bakumpai juga berbeda dibandingkan bahasa Ngaju atau Biaju, sekalipun mereka berasal dari sumber yang sama. Di Kampung Baru’ identitas budaya Bakumpai dibentuk dengan rudat. Rudat adalah kesenian tabuhan tarbang, tarian dan syair, dianggap khas Bakumpai yang dapat dibedakan dari orang Banjar. Perbedaan ini terletak pada jenis kesenian ini yang tidak dijumpai di Banjar. Pembentukan identitas ini dikokohkan dengan pembentukan sanggar seni ” Buang Nura” atau ”Membuang Malu” yang menggarap kesenian rudat, jepin, dll. Keseluruhan dari ciri identitas budaya Bakumpai membawa kita pada satu pemahaman bahwa orang Bakumpai adalah orang Bakumpai. Mereka berbeda dibandingkan orang Banjar dan Ngaji. Mereka adalah diri mereka dengan ciri khas mereka, yang membuat mereka berbedan dan bisa dibedakan dibandingkan komunitas lain.

Translate

Bakumpai was a name for people who lived in the South Barito region, Central Kalimantan. They were natives who were now Muslim and speak Bakumpai language. Bakumpai language was easily known because it had different lexical characteristics compared to the Banjar language. Bakumpai languages ​​were also different compared to Ngaju or Biaju, even though they came from the same source. In Kampung Baru, the cultural identity of Bakumpai was formed by rudat. Rudat was the art of tarbangs, dances and poetry, considered to be typical of Bakumpai which could be distinguished from the Banjar people. This difference lied in the type of art that was not found in Banjar. The formation of this identity was confirmed by the formation of the "Buang Nura" or "Throwing Shame" art studios that worked on rudat, jepin, etc. All of the characteristics of Bakumpai's cultural identity leaded us to an understanding that Bakumpai people were Bakumpai people. They were different compared to Banjar and Ngaji people. They were themselves with their characteristics, which made them different and could be distinguished compared to other communities.