IBAN DAN KONSTRUKSI KEBUDAYAANNYA DI KAPUAS HULU

Pengarang: 

MOCH. ANDRI WP, EKA JUNIAWAN, AHMAD SOFIAN

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2014

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

KBA - 306 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-602-1228-97-5

Jumlah Halaman: 
85

Bagi masyarakat Iban, khususnya mereka yang berada di komunitas rumah panjai Ngaung Keruh dan Kelayam, cerita rakyat merupakan gambaran yang dipercaya mewakili mereka. Tegasnya adalah menggambarkan bagaimana sesungguhnya mereka pada masa lalu. Terutama menyangkut tentang dua hal, yaitu pertama karakternya yang kuat, tidak pernah takut, handal dan suka berpetualang; kedua menyangkut kepercayaan tentang leluhur, dunia atas, khayangan, atau dunia lain yang mereka sebut dengan panggau. Selain mencerminkan kepercayaannya pada masa lalu, konsep tentang panggau juga mencerminkan bagaimana cara mereka memahami, berinteraksi, dan beradaptasi terhadap lingkungannya. Sebagaimana etnik yang lain, nenek moyang Iban juga mengenal adanya Petara, Bhatara atau dewa, namun dalam pengertian yang mungkin sedikit agak berbeda. Masyarakat Iban percaya bahwa mereka semua adalah keturunan Sengalang (Singalang) Burung yang tidak lain merupakan salah satu dari tujuh Petara (dewa) Iban pada masa lalu. Selain Sengalang Burung yang dikenal sebagai dewa perang, masih ada enam Petara (dewa) lain yang ternyata semuanya itu dipercaya sebagai anak dari keturunan Raja Jembu, atau cucu dari Raja Durong. Iban memang tidak semata mengenal panggau dalam kepercayaannya sebagai alam lain (gaib) yang berada di luar jangkauan manusia. Mereka juga percaya ada alam lain yang menjadi tempat bersemayamnya roh-roh orang yang telah meninggal.