HUBUNGAN JAMBI JOHOR PADA ABAD 17

Pengarang: 

ANASTASIA WIWIK SWASTIWI

Penerbit: 

BPSNT TANJUNGPINANG

Tahun Terbit: 

2011

Daerah/Wilayah: 
Jambi
Rak: 

SUA - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-979-1281--47-8

Jumlah Halaman: 
124

Antara Jambi dan Johor telah lama saling berhubungan baik dalam keadaan damai maupun tegang. Perselisihan antara keduanya dimulai ketika Sultan Talun memerintahkan Menteri Urusan Laut Johor untuk mengunjungi daerah taktulannya Riau dan Indragiri. Disana Sultan mengadakan perjanjian dengan penduduk pribumi dan mengangkat putranya menjadi penguasa di Tungkal. Pada masa Negeri Jambi diperintah oleh Sultan Abdul Kohar (1615-1643) penguasa Tungkal oleh Johor diambil alih Sultan Jambi dengan paksa. Keadaan ini menimbulkan ketegangan antara Jambi dan Johor. Ketegangan semakin memuncak terlebih lagi Palembang dan Belanda ikut campur didalamnya. Menurut catatan Belanda kepada Kompeni di Muara Kumpeh perang antara Jambi dan Johor tahun 1667, dimana Palembang membantu Johor dan Belanda berada di pihak Jambi. Pada akhir abad 19 puncak hubungan Jambi dan Johor semakin erat, terlihat adanya keluarga Sultan Thaha Syaifudin dan keluarga pejuang Jambi menyingkir ke Negeri Johor dan diterima baik serta diberi tanah atau lahan pemukiman.