HARI-HARI TERAKHIR ORDE BARU MENELUSURI AKAR KEKERASAN MEI 1998

Pengarang: 

PETER KASENDA

Penerbit: 

KOMUNITAS BAMBU

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

IPO - 320.9 (320-329)

ISSN/ISBN: 

978-602-9402-65-0

Jumlah Halaman: 
234

Soeharto naik panggung politik pasca kemelut politik yang terjadi pada 1 Oktober 1965. Legitimasi Soeharto tumbuh karena ia mampu mengatasi krisis politik yang disebabkan oleh kudeta yang gagal. Kemampuan Soeharto untuk menjadikan dirinya sebagai kekuatan politik yang dominan, khususnya sejak pertengahan 1980-an, menyebabkan tiadanya kekuatan politik tandingan bagi dirinya. Dampak positif bagi dirinya adalah ia dapat mempertahankan kekuasaannya begitu lama. Sebaliknya, dampak negatifnya adalah ia menjadi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri, sehingga terjadi pembusukan dari dalam diri dan rezim pemerintahannya. Kejatuhan Soeharto setelah 32 tahun berkuasa disebabkan tekanan mahasiswa melalui demonstrasi yang terus menerus, tekanan kapitalisme global, khususnya dari pemerintahan Amerika Serikat, konspirasi dan perpecahan di tubuh elite penguasa, terutama militer, serta pengunduran diri 14 menteri yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Ekonomi dan Keuangan, Ginanjar Kartasasmita, yang selama ini dibesarkan dan sangat dipercaya oleh Presiden Soeharto. Menurut Aspinaal, kejatuhan Soeharto disebabkan terjadinya perpecahan dalam tubuh militer ketika situasi politik dalam keadaan kritis. Ketika rezim Orde Baru menciptakan ketidakadilan sosio-ekonomi yang lebih kuat dan lebih kentara dengan cara memelihara konglomerat etnis Tionghoa, kemarahan terhadap rezim Orde Baru ditransformasikan menjadi kekerasan terhadap etnis Tionghoa. Kerusuhan 13-15 Mei 1998 di Jakarta merupakan malapetaka terbesar yang dialami bangsa Indonesia. Tragedi Mei 1998 telah menorah luka mendalam, tetapi kita tidak boleh terus menerus meratapi nasib karena tidak ada gunanya. 17 tahun setelah terjadi Tragedi Mei 1998, ada begitu banyak hal positif yang dapat dirayakan.