GUNUNG TAMBORA DALAM SEJARAH DAN MITOLOGI MASYARAKAT DOMPU PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Pengarang: 

WAKHYUNING NGARSIH, NI LUH ARIANI, I MADE SUMERTA

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Bali
Rak: 

GEO - 551.2 (550-559)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-263-3

Jumlah Halaman: 
125

Dahsyatnya letusan Tambora yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa telah menjadi referensi penting bagi ilmu pengetahuan dalam memahami fenomena alam. Tidak hanya sekedar fenomena alamnya saja, melainkan juga peradaban masyarakat yang pernah hidup dan bertempat tinggal di lereng Tambora. Dalam melihat peradaban masyarakat yang pernah mendiami lereng Tambora dapat didasarkan pada dua sudut pandang yaitu sejarah dan mitologinya. Berdasarkan sejarah, memahami peradaban masyarakat Tambora dapat ditelusuri melalui kerajaan-kerajaan yang ada di sekitar lereng Tambora. Seperti Kerajaan Pekat, Tambora dan Sanggar. Setelah Tambora meletus, terbentuk “daerah-daerah tidak bertuan” (idle lands) di wilayah-wilayah bekas Kerajaan Pekat dan Tambora. Hingga akhirnya, kerajaan-kerajaan ini digabungkan dengan kerajaan lain yang berada di Pulau Sumbawa. Selain dari sudut pandang sejarah, peradaban masyarakat Tambora juga dapat dilihat dari mitologi yang berkembang pasca terjadinya letusan tahun 1815. Ada beberapa cerita yang diungkapkan oleh masyarakat  lokal Dompu yang hingga saat ini masih dipercaya memiliki kaitan dengan terjadinya letusan Tambora. Beberapa cerita tersebut diantaranya yaitu tentang seorang ulama bernama Tuan Guru Shaleh Musthafa yang pernah singgah ke wilayah Tambora, Putri Dae La Minga yang dikisahkan hilang di balik Gunung Tambora serta keberadaan Pulau Satonda yang memiliki pohon keramat yang dipercaya oleh masyarakat setempat dapat mengantarkan untuk meraih cita-cita. Cerita-cerita tersebut telah menjadi semacam mitos mengenai Gunung Tambora.