FUNGSI MUSIK DALAM UPACARA MARABUT TAMBANG DAN MANGULAMBU DAYAK TAMAMBALOH APALIN, DESA BENUA TENGAH, KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT

Pengarang: 

TUTUP KUNCORO, CAMERON MALIK

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

TDK - 780.7 (780-789)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-190-2

Jumlah Halaman: 
87

Musik bagi masyarakat Dayak Tamambaloh Apalin berperan vital dalam pelaksanaan proses ritual Marabut Tambang dan Mangulambu. Upacara Marabut Tambang dan Mangulambu pada masyarakat Dayak Tamambaloh Apalin Desa Benua Tengah merupakan sebuah ritual adat untuk menghormati leluhurnya. Ritual ini dilaksanakan dalam rangka melepas pantang para leluhur yang mempunyai garis keturunan bangsawan (kasta Samagat). Samagat adalah kasta tertinggi dalam sistem stratifikasi sosial Dayak Tamambaloh Apalin di Desa Benua Tengah, dimana keturunannya berhak dan wajib untuk ditancapkan tambang/patung apabila sudah meninggal. Penancapan ini dimaksudkan untuk mempertahankan status kebangsawanannya, yang mana akan diwariskan secara turun temurun kepada garis keturunannya. Pada pelaksanaan ritual ini, musik dianggap sebagai perangkat penting dalam prosesinya. Antara musik dan ritual tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam upacara Marabut Tambang dan Mangulambu ini. Peranan musik dalam upacara ini dapat didefinisikan memiliki “fungsi”. Istilah fungsi dalam konteks ini lebih kepada sifat peranannya yang sangat signifikan, yaitu ada keterkaitan secara sistem/struktur sosial budaya adat Dayak Tamambaloh Apalin. Bukti yang didapat dalam prosesi ritual ini yaitu bahwa musik digunakan sebagai penanda prosesi ritual. Artinya, musik berperan sebagai kunci dalam ritual, tanpa musik suatu prosesi tidak dapat berlangsung.