FETRAUW ORANG SOBEI DI KAMPUNG SAWAR KABUPATEN SARMI

Pengarang: 

VEIBE RHIBKA ASSA, ABDUL RAZAK MACAP, RAMLA ABDUL RASYD

Penerbit: 

BPNB PAPUA

Tahun Terbit: 

2016

Daerah/Wilayah: 
Papua
Rak: 

TDK - 392 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-6525-07-9

Jumlah Halaman: 
66

Orang Sobei di Sarmi mengenal tradisi fetrauw yang merupakan suatu kekuatan atau ilmu gaib, atau mantera yang baik. Fetrauw merupakan tradisi yang dianggap sakral karena dapat mendatangkan bahaya atau bencana bagi yang melanggar, namun berupa hal baik karena mengatur keseimbangan hidup manusia serta alam sekitarnya. Fetrauw merupakan hasil akal dan pikiran orang Sobei yang terintegrasi ke dalam perilaku kehidupan, yang mengandung peraturan bersumber dari kebiasaan hidup berisi aturan, norma, dan adat yang berlaku bagi orang Sobei di kampung Sawar. Diwariskan secara turun temurun untuk mengatur kehidupan mereka dengan lingkungan dimana mereka berada, baik dalam lingkungan fisik maupun sosial. Fetrauw merupakan aturan adat yang tidak tertulis berupa mantera yang diucapkan saat prosesi ritual adat dengan menggunakan bahasa sehari-hari orang Sobei, sedangkan mantera dengan bahasa atau ucapan kata/arti sakral yang dimengerti para leluhur akan diucapkan di dalam hati saja. Bila ada salah satu kata dalam bahasa (Sobei) telah diucapkan, berarti dianggap sakral dan terkena fetrauw yang berdampak pemberian sanksi. Fetrauw yang paling sakral dan masih kuat diingat dan dilakukan orang Sobei adalah fetrauw werbiko yang berlaku di darat untuk batas-batas yang tidak boleh dilanggar pada saat dilakukan ritual adat, serta pada saat melakukan perjodohan. Aturan yang telah diberlakukan pada fetrauw akan selalu dipahami dan ditaati bersama oleh orang Sobei di Kampung Sawar. Bila aturan tertentu dilanggar, maka akibatnya seseorang dapat terkena sakit bisul darah atau bisul nanah dan akibat fatal lain seseorang bisa mengalami kematian. Sedangkan orang yang bisa menyembuhkannya hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu atau seseorang yang memiliki kekuatan yang diwarisi secara turun temurun atau berkat kemampuannya secara gaib. Sebagian besar perubahan atau makin berkurangnya praktek tradisi ini pada orang Sobei disebabkan oleh pengaruh perkembangan zaman, agama baru (ajaran kristen), manusia mulai berpikir praktis dan ekonomis, serta perubahan pemerintah yang berubah (pemerintahan adat, Belanda, Indonesia).