ETNOGRAFI SUKU TETUN DI DAERAH PERBATASAN KABUPATEN BELU PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Pengarang: 

NURYAHMAN, IDA BAGUS SUGIANTO

Penerbit: 

BPNB BALI

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Nusa Tenggara Timur
Rak: 

MAD - 305.8 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-259-6

Jumlah Halaman: 
135

Suku Tetun merupakan suku terbesar dari banyaknya suku yang terdapat di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Keberadaan mereka di Kabupaten Belu terdapat dalam beberapa versi, diantaranya tradisi lisan atau cerita rakyat yang berkembang di Belu Utara yang menceritakan tentang kedatangan leluhur mereka yang berasal dari sebelah Timur.Versi lainnya mengatakan bahwa kedatangan leluhur mereka “Sina Mutin Malaka” adalah dari barat (oleh Ormeling dalam bukunya yang berjudul Timor Problem dinamakan the recent intruders). Terlepasa dari versi mana yang benar, kedatangan suku Tenun di Kabupaten Belu ini membawa serta budaya dan tradisi mereka. Tradisi yang dilaksanakan seperti pembukaan lahan (antama), pembangunan rumah (uma), turu lisan (hamulak), dan sebagainya ini masih dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat suku tenun hingga saat ini. Hal yang menggambarkan kesatuan mereka secara budaya adalah pada tanggal 1 April 2017 dilaksanakan upacara pengembalian benda pusaka. Dalam hal ritual adat pertanian selalu diawali dengan doa kepada pah maisokan (roh-roh setempat) agar mereka dan anak-anaknya turut ambil bagian dalam kegiatan yang akan dilaksanakan. Yang merupakan puncak acara dalam ritual adat masyarakat tetun, yaitu makan bersama meriah antara warga yang masih hidup (anak cucu) dengan nenek moyang leluhur mereka.