ETNOGRAFI MASYARAKAT SAMIN DI BOJONEGORO (POTRET MASYARAKAT SAMIN DALAM MEMAKNAI HIDUP)

Pengarang: 

SITI MUNAWAROH, CHRISTRIYATI ARIANI, SUWARNO

Penerbit: 

BPNB YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Jawa Timur
Rak: 

MAT - 305.8 (300-309)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-48-8

Jumlah Halaman: 
139

Masyarakat Samintermasuk sub suku Jawa dan merupakan suatu bentuk pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada ajaran dan pandangan hidup khas atau tertentu dengan komunitas lain (masyarakat Jawa di sekitarnya). Masyarakatnya masih memegang teguh ajaran yang diturunkan atau masih kuatnya mentaati ajaran leluhurnya (Saminisme) hingga kini. Istilah Samin diartikan sami-sami amin, dari konsep ini bahwa semua warga masyarakat Samin harus bersama-sama menyatu dalam satu ajaran yang sama. Unsur kebersamaan, satu, menyatu, persatuan menjadi kunci utama bagi masyarakat Samin untuk menjalani hidup. Oleh karenanya, bagi warga masyarakat Samin sesama manusia dianggap seperti saudara, sedulur: sehingga muncul konsep bahwa duweku yo duwekmu; duwekmu yo duweku (milikku juga milikmu; milikmu juga milikku). Dalam hubungannya dengan sesama masyarakat telah adanya hukum yang mengatur tentang hukum ucapan, perilaku, pelaksanaan. Kaitannya dengan hubungan dengan alam, pedoman yang masih tetap dijalankan adalahmereka saling menjaga keharmonisan antara manusia dan alam lingkungannya, bekerjasama dan saling percaya. Masyarakat Samin dalam memaknai terhadap adanya Sang Pencipta (Tuhan) melalui pemikiran yang sangat sedrehana. Artinya, Sang Pencipta adalah Dia yang melahirkan adanya manusia. Di Pulau Jawa masyarakat ini bermukim di Kabupaten Blora, Pati, Kudus dan Bojonegoro. Perubahan juga terjadi pada adat istiadat, seperti perkawinan yang tidak lagi terikat harus keturunan Samin, tetapi dengan keturunan di luar Samin yang beragama Islam dan melaksanakan perkawinan pun mengikuti aturan pemerintah yakni di KUA.