EMPAT SASTRAWAN SUNDA LAMA

Pengarang: 

EDI S. EKADJATI, A. SOBANA HARDJASAPUTRA, ADE KOSMAYA ANGGAWISASTRA, AAM MASDUKI

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN JAKARTA

Tahun Terbit: 

1994/1995

Daerah/Wilayah: 
Jawa Barat
Rak: 

BSL - 928 (920 - 929)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
139

Lahirnya para sastrawan dan karya tulis mereka berhubungan erat dengan situasi dan kondisi sosial budaya, politik, dan ekonomi lingkungan tempat mereka berada. Jika situasi dan kondisinya menunjang, maka akan bermunculan para sastrawan beserta karya-karya tulis mereka. Sebaliknya, jika situasi dan kondisinya tidak mendukung, seretlah para sastrawan lahir dan dengan sendirinya sulit juga tampil karya tulis mereka. Kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengenai pendidikan masyarakat pribumi dan bacaan umum (volkslektuur) yang dikeluarkan pada pertengahan abad ke-19 Masehi, pada satu pihak mendorong lahirnya sejumlah sastrawan Sunda, termasuk R.H. Muhamad Musa, R. kanduruan Kertinagara, R.A.A. Martanagara, dan H. Hasan Mustapa, yang menghasilkan sejumlah karya tulis mereka baik karya sastra maupun karya bahasan; pada pihak laintema karangannya umumnya memiliki fungsi pendidikan yang mendorong agar para pembaca sehat jasmani dan rohaninya (cageur), bersikap dan berprilaku baik (bageur), taat dan setia kepada penguasa atau atasan, serta bersedia hidup prihatin guna mencapai kemajuan di masa depan. R.H. Muhamad Musa yang berteman dekat dengan K.F. Holle serta terpengaruhi oleh alam pikiran Barat yang bercirikan rasional memelopori lahirnya karya sastra Sunda yang menggunakan alam pikiran rasional, serta menolak alam pikiran magis/mistik, seperti tercermin dalam Wawacan panji Wulung dan carita Abdurrahman jeung Abdurrahim. R. kanduruan Kertinagara menggunakan karya tulisnya (sajarah Sukapura) bagi kepentingan kelompok sosialnya yang adalah kaum elit birokrat dan elit agama melalui pembinaan hubungan kekerabatan dan etika moral serta informasi ke pihak luar. R.A.A. Martanagara adalah pengarang Sunda pertama yang menyusun otobiografi dengan menggunakan pendekatan sejarah, walaupun di dalamnya terselip alam pikiran mitis. H. Hasan Mustapa menggunakan bentuk sastra (dangding) dengan sangat baik dan kreatif untuk mengungkapkan proses pemahaman dan pendalaman tentang keimanan dan keislaman nenurut ajaran agama Islam dan alam pikiran orang Sunda. Sebagian tema dan konsep sentral yang terkandung dalam karya tulis empat sastrawan Sunda yang diteliti (R.H. Muhamad Musa, R. Kanduruan Kertinagara, R.A.A. Martanagara, dan H. Hasan Mustapa) masih relevan dengan jiwa dan suasana kehidupan masyarakat sunda dewasa ini, umumnya masyarakat Indonesia. Namun sebagian lagi sudah tidak relevan dengan jiwa dan suasana sekarang.