EMALI TRADISI BERBURU KEPALA DI NIAS SELATAN

Pengarang: 

DHARMA KELANA PUTRA

Penerbit: 

BPNB BANDA ACEH

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Sumatera Utara
Rak: 

TDK - 394.7 (390-399)

ISSN/ISBN: 

978-602-9457-50-6

Jumlah Halaman: 
31

Di Pulau Nias khususnya Nias bagian selatan, tradisi berburu kepala disebut dengan istilah mangai hogo atau Moi ba dano. Berburu kepala dilakukan oleh kaum laki-laki yang bisanya merupakan prajurit pilihan dan dianggap telah memenuhi standar kelayakan. Para pemburu kepala manusia ini kemudian populer sebagai emali. Kepala manusia diburu untuk dijadikan sebagai binu, yakni tumbal atau korban. Sama halnya dengan kelompok etnik lain yang mempraktekkan perburuan kepala, binu di Nias dimanfaatkan untuk keperluan ritual tertentu. Binu yang baik adalah bagian tubuh manusia yang dipenggal secara diagonal, dari pangkal leher bagian kiri menuju ke arah ketiak kanan. Tujuannya agar kepala yang sudah diperoleh mudah untuk dibawa, khususnya ketika seorang emali lari dari kejaran penduduk desa yang warganya menjadi korban. Perburuan binu ada bermacam ragam, dua diantaranya dengan cara sembunyi-sembunyi dan dengan mengumumkan perang terlebih dahulu. Mengacu pada tradisi lisan yang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Nias di bagian selatan, binu yang telah diperoleh biasanya digunakan sebagai tumbal atau pengorbanan manusia untuk ritual tertentu, seperti membangun batu hombo, meningkatkan status sosial (owasa), meningkatkan kekuatan spiritual, ritual membangun rumah, menjadi budak bagi si'ulu yang telah wafat. Berburu kepala untuk dijadikan tumbal atau binu di Nias dilakukan pada musim tertentu, yakni antara bulan Maret sampai April. BAgian tubuh ini diambil dari musuh yang sudah mati ataupun yang masih hidup.