DINAMIKA KEMILITERAN : DARI KELASKARAN HINGGA BATALYON 710 DI SULAWESI SELATAN

Pengarang: 

BAHTIAR, M. AMIR, SYAHRIR KILA, ROSDIANA HAFID

Penerbit: 

UNHAS PRESS

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Sulawesi Selatan
Rak: 

SPR - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-979-530-233-9

Jumlah Halaman: 
194

Kesatuan Batalyon 710 dibentuk untuk menambah personil Tentara Nasional Indonesia yang ketika itu jumlahnya masih sangat kecil. Terbentuknya kesatuan ini, paling tidak telah mengakomodir sejumlah anggota gerilya yang ribuan jumlahnya yang selama ini meminta status untuk diakui sebagai Tentara Nasional Indonesia.  Batalyon 710 awalnya dibentuk dengan nama Batalyon 719 yang beralokasi di Maros dan sekitarnya, lalu diorganisir menjadi 710 beralokasi di daerah Mandar (Polmas, Majene dan Mamuju). Ketika Batalyon 710 ditempatkan di daerah Mandar, personilnya tidak mencukupi untuk mengamankan personil seluruh wilayahnya yang begitu luas. Untuk memenuhi tuntutan jumlah personil kesatuan tersebut, Andi Selle kemudian merekrut masyarakat, baik yang ada hubungan darah maupun yang tidak sebagai Tjadangan Bantuan Operasional disingkat  TBO. Adapula yang menyebutnya sebagai Tentara Bantuan Operasional, bahkan lebih jauh ada yang mengartikan sebagai Tentara Banyak Oang (uang). Pengertian treakhir itu dikaitkan dengan julukan bagi Batalyon 710 sebagai ‘batalyon dollar’. Artinya batalyon yang memiliki kemampuan keuangan yang banyak sehingga dapat menggaji sendiri anggota TBO-nya yang berjumlah ribuan orang.