DINAMIKA DIASPORA MASYARAKAT BUGIS SULAWESI SELATAN DI PANTAI TIMUR KALIMANTAN ABAD XVII - XIX

Pengarang: 

LISYAWATI NURCAHYANI, HARTO JUWONO, LANGGENG SULISTYO

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Timur
Rak: 

KTI - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-164-3

Jumlah Halaman: 
112

Diaspora komunitas dari Sulawesi Selatan kewilayah lain dan pembangunan pemukiman mereka di pantai Timur Kalimantan menjadi suatu fenomena tersendiri dalam historiografi Kalimantan. Alasan utama diaspora Bugis memilih pantai Timur Kalimantan adalah kedekatan geografis dan komoditi dagang dari hasil hutan maupun hasil laut pantai Timur Kalimantan. Orang Bugis sudah sejak abad XVIII telah mengunjungi lokasi ini, dan telah menjalin hubungan dengan Kerajaan Tidung di Tarakan. Orang-orang Bugis dikenal sebagai pelaut, nelayan, pedagang bahkan perompak. Aktivitas orang Bugis ini berlangsung sangat intensif dan dengan menggunakan kekuatan maritime mereka yang dominan, mereka berhasil mendesak penduduk pribumi setempat dan menegakkan posisi yang kuat di daerah pemukimannya. Samarinda yang semula hanya memiliki satu kampong Bugis pada awal abad XVII, tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kota Bugis dengan perdagangan dan pelabuhannya yang dominan pada pertengahan abad XIX. Dari situ, orang Bugis ini kemudian memasukkan pantai Timur Kalimantan lewat diaspora mereka dalam jaringan perdagangan dan perkapalan domestiknya yang membentang dari Papua di timur hingga Singapura di barat sepanjang abad XIX hingga awal abad XX. Kehadiran orang Bugis ternyata dimanfaatkan oleh penguasa lokal. Mereka diminta mendukung pengembangan aktivitas niaga. Hubungan yang terjalin antara orang-orang Bugis dan penguasa lokal tidak hanya terbatas pada politik, tetapi terkait juga dengan sektor ekonomi maupun sosial