DIASPORA DAN KETAHANAN BUDAYA ORANG BUGIS DI PAGATAN TANAH BUMBU

Pengarang: 

HENDRASWATI, J. DALLE, ZULFA JAMALIE

Penerbit: 

KEPEL PRESS

Tahun Terbit: 

2017

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

KSE - 900 (900-909)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-197-1

Jumlah Halaman: 
151

Diaspora orang-orang Bugis dalam beberapa gelombang berlangsung selama pertengahan abad ke-18 dan awal abad ke-20, dimulai dari rombongan dari rombongan dagang Puanna Dekke (pendiri Kerajaan Pagatan) dan diteruskan oleh kelompok-kelompok yang berikutnya. Terjadinya diaspora dan bermukimnya orang-orang Bugis serta berdirinya Kerajaan Pagatan merupakan faktor utama yang mendorong terbentuknya identitas diri sebagai 'orang Bugis' (to Ugi') dan kuatnya tradisi kebugisan yang mereka bawa dari tempat asal. Sehingga walaupun berada di luar Sulawesi Selatan, mereka tetap memelihara identitas kebugisannya. Selain itu karena strategi adaptasi Bugis yang selalu menyesuaikan dengan adat budaya setempat yang multicultural. Secara khusus, ketahanan budaya orang Bugis di Pagatan bisa dilihat dari banyak hal yang telah mereka lakukan, diantaranya meneruskan kehidupan sebagai pedagang, pelaut atau nelayan; berkomunikasi dalam bahasa Bugis; melaksanakan upacara adat dan upacara keagamaan, terutama berbagai upacara yang bekaitan dengan perkawinan, kehamilan, kelahiran, masa kanak-kanak, berhubungan dengan pekerjaan melaut (mappandretasi). Selain itu juga ada beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Miraj pada tiap-tiap tahun; memelihara kesenian Bugis seperti massukkiri’ (pembacaan syair-syair Maulid Nabi diselingi dengan pukulan rebana), tarian (mappakaraja), seni musik (kecapi Bugis); meneruskan tradisi semula (tenun tradisional), melangsungkan perkawinan dengan adat dan sesama orang Bugis; dan lain-lain.