DHANGGLUNG LUMAJANG :  PERTUNJUKAN DAN PELESTARIAN

Pengarang: 

YUSTINA HASTRINI NURWANTI, SITI MUNAWAROH

Penerbit: 

BPNB D.I YOGYAKARTA

Tahun Terbit: 

2019

Daerah/Wilayah: 
Daerah Istimewa Yogyakarta
Rak: 

RKE - 781.6 (780-789)

ISSN/ISBN: 

978-979-8971-95-2

Jumlah Halaman: 
123

Keseniang Dhangglung yang ada di Lumajang merupakan kesenian Madura yang berkembang di Pulau Jawa bagian timur. Syair lagu atau gendhing dan penyebutan instrumen menggunakan bahasa Madura. Musik Instrument dhanggung terdiri dari saronen, eghung gedhe (gong), eghung cilik (kempul), thok thok berjumlah 3 (kenthongan), dan kenong telok. Musik dhangglung identik dengan bunyi yang rancak dan dinamik yang dihasilkan dari perpaduan bunyi dari segi instrumen. Asal mula keberadaan  musik dhangglung berawal dari kenong telok dan thong thong kerap atau kethongan yang biasa dipentaskan di Lumajang. Kenong telok digunakan untuk mengiringi kerapan sapi. Ada dua penyebutan musik perpaduan antara kenong telok dan thong thong kerap yaitu dangling dan dhangglung. Kesenian musik ini menurut para narasumber pada mulanya merupakan suatu bentuk kesenian yang kegunaannya untuk mengiringi tradisi kerapan sapi dengan sebutan tabuhan sapeh (karawitan sapi), mengarak sapi untuk nadir, dan gethak doro. Masa sekarang musik ini sudah mengalami pergeseran yang kegunaannya dismping untuk ngarak sapi juga menjadi pengiring kesenian ataupun tari. Musik ini digunakan untuk mengiringi ngarak sapi yang akan melakukan kerapan sapi.