DARI PEMUKIMAN MUARA MENUJU PELABUHAN SAMODRA TARAKAN 1878-1942

Pengarang: 

LISYAWATI NURCAHYANI, HARTO JUWONO, LANGGENG SULISTYO

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2015

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Utara
Rak: 

KUT - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

978-602-356-081-3

Jumlah Halaman: 
242

Tarakan berkembang menjadi daerah yang cukup dikenal melalui proses panjang, Kekayaan alamnya menjadi bagian dari identitas daerah. Minyak bumi menjadi bagian dari perkembangan itu. Secara geografis kawasan Tarakan berdekatan dengan wilayah Kalimantan bagian utara yang dikuasai oleh Inggris, sehingga dipandang perlu untuk memastikan tapal batasnya. Secara politis, wilayah ini menjadi bagian dari kerajaan-kerajaan tradisional lokal, sehingga perlu dipastikan tidak ada konflik politik dengan kekuasaan lokal. Berbagai bentuk kesepakatanatau perjanjian dilakukan antara pemerintah Hindia Belanda dengan para penguasa lokal. Setelah kedua msalah itu jelas secara hukum, upaya eksploitasi digalakkan. Secara perlahan sektor pertambangan mulai memberi keuntungan. Efek yang dirasakan oleh Tarakan adalah secara perlahan menjadi kota yang modern dengan segala fasilitas pendukungnya. Pelabuhan Tarakan mulai menjadi pelabuhan penting, baik secara ekonomi maupun militer. Melalui pelabuhan Tarakan menjadi kota yang semakin terbuka dan dikenal sebagai penghasil minyak di Kalimantan Timur. Pelabuhan ini mulai menghubung beberapa daerah di Nusantara, maupun beberapa wilayah di luar Hindia Belanda, mengingat bahan tambang dari kawasan ini juga dipasarkan ke Jepang. Kontak dengan dunia luar mulai meluas ketika tidak saja hubungan laut berkembang. Namun menjelang tahun 1940an perusahaan penerbangan KNILM mulai singgah di Tarakan dalam penerbangan ke Manila. Sebelumnya, ketika dunia dilanda resesi ekonomi, perekonomian Tarakan menunjukkan ketangguhannya. Pengaruh resesi sebentar saja mempengaruhi perekonomian Tarakan. Seusai resesi kondisi perekonomian Tarakan mulai menggeliat, bahkan negara lain mulai menunjukkan minatnya, terutama Jepang. Ketika Perang DUnia II berkecambuk, Jepang menemukan momentumnya untuk menguasai sektor pertambangan di Tarakan.