DAPUR DAN ALAT-ALAT MEMASAK TRADISIONAL PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

Pengarang: 

NASRUDDIN SULAIMAN, RUSDI SUFI, A. HAMID ALI, T. ALAMSYAH

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1993

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

PRT - 643.3 (640-649)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
143

Suku bangsa Aceh yang berdiam di Daerah Istimewa Aceh, terutama yang tinggal di daerah pedesaan masih mempergunakan dapur dan peralatan dapur secara tradisional di dalam mengolah bahan makanan yang mentah menjadi makanan yang siap untuk disajikan. Dapur rumah tangga terdapat pada setiap rumah tempat tinggal di dalam masyarakat Aceh. Karena dapur rumah tangga ini mempunyai peranan tempat mengolah bahan makanan untuk kepentingan seluruh anggota keluarga setiap hari, terutama keluarga yang menetap. Rumah tempat tinggal bagi masyarakat Aceh secara tradisional berbentuk rumah panggung yang disebut rumoh Aceh (rumah Aceh). Secara umum dapat disebutkan penempatan dapur pada setiap rumah berada di bagian belakang sehingga disebut dengan sebutan sramo likot da nada yang menyebutnya sramo danu. Penataan tata ruang dapur rumah tangga selalu didasarkan pada faktor tepat guna dalam mengelola aktivitas dapur. Dapur rumah tangga bentuknya empat persegi panjang. Bahannya dibuat dari kayu – papan – dan ada pula dari pelepah rumbia. Sedangkan pada alat-alat memasak pada masyarakat Aceh masih bersifat tradisional dan setiap alat ini mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing. Bahan yang dipergunakan untuk membuat alat-alat tersebut bermacam-macam, seperti tanah liat, besi, seng, kayu, dan sebagainya. Adapun beberapa peralatan memasak tradisional tersebut diantaranya, kanet, blangong, batee lada, dangdang, penue, aweuek, cinu, guci, sareng santan, bruek boi, dan sebagainya.