DAPUR DAN ALAT-ALAT MEMASAK TRADISIONAL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Pengarang: 

SUMINTARSIH, H.J. WIBOWO, ISNI HERAWATI, INDAH SUSILANTINI, SOEPANTO, S. ILMI ALBILADIYAH. SURYATNI

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 

Tahun Terbit: 

1993

Daerah/Wilayah: 
Daerah Istimewa Yogyakarta
Rak: 

PRT - 643.3 (640-649)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
195

Kondisi dapur tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta pada umumnya kurang memperhatikan aspek kebersihan. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh kesadaran terhadap kesehatan masih kurang. Sesuai dengan anggaran masyarakat Jawa pada umumnya, bahwa dapur atau pawon adalah tempat kotor, maka dari arti kata tersebut dapur terletak di belakang rumah atau di samping rumah. Dapur atau pawon meskipun mempunyai peranan yang sangat penting dalam rumah tangga Jawa, tetapi tidak begitu banyak yang memperhatikan bagaimana sebaiknya dapur itu dibangun, baik itu mengenai letak pintu, pembagian ruangan dan sebagainya. Salah satu ciri dapur tradisional adalah pemakaian bahan bakar kayu. Bahan bakar yang dipakai tersebut pada umumnya berupa sepet, blarak, ranting-ranting kayu, dan sebagainya yang dapat dipenuhi dari lingkungan rumahnya. Selain menggunakan bahan bakar, salah satu ciri dapur tradisional lainnya adalah pemakaian tungku tradisional. Pemakaian tungku in berupa luweng, dhingkel, keren, dan ini dilakukan oleh hampir semua penduduk di daerah pedesaan. Pemakaian alat-alat dapur tradisional oleh sebagian besar penduduk pedesaan, adalah hasil dari tangan-tangan terampil yang terdapat pada rumah tangga-rumah tangga pedesaan. Alat-alat tradisional untuk memasak tersebut terbuat dari tanah liat dan bambu.